Tampilkan postingan dengan label Agribisnis Itik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agribisnis Itik. Tampilkan semua postingan

Transaksi Peternakan Unggas 2013 lebih menjanjikan

Transaksi peternakan unggas pada tahun 2013 lebih menjanjikan dan berpotensi mengalami kenaikan yang lebih besar dibanding 2012, kata Sekretaris DPP Pengusaha Peternak Unggas Indonesia (PPUI) Aswin Pulungan di Bandung, Senin (31/12/2012).

"Transaksi peternakan unggas pada 2013 diperkirakan lebih baik dan peningkatanya lebih dari tahun 2013, indikasiknya adanya kenaikan harga daging sapi sehingga konsumsi beralih ke ayam," kata Aswin Pulungan di sela-sela diskusi potensi biomassa di Bandung.

Aswin menyebutkan transaksi peternakan unggas baik dari daging maupun telur pada 2012 mencapai Rp160 triliun atau meningkat dibandingkan 2011 yang hanya sebesar Rp140 triliun.

Peningkatan kebutuhan daging dan telur ayam merata baik untuk keperluan rumah tangga, kuliner, restoran, hotel maupun produk berbahan baku daging ayam.

Namun dari sisi penghasilan bagi peternak, kata Aswin masih lebih besar dinikmati oleh peternak atau perusahaan modal asing (PMA) yang mencapai 70%, sedangkan total transaksi oleh peternak lokal hanya sebesar 30%.

"Tingkat konsumsi daging dan telur ayam masyarakat Indonesia termasuk tertinggi di Asean, yakni sekitar tiga kilogram per bulan," katanya.

Angka konsumsi itu, kata dia masih di atas konsumsi Malaysia. Sehingga potensi peternakan unggas di Indonesia cukup besar dan pasarnya jelas.

Secara umum, kata dia, penyerapan daging dan telur ayam di Indonesia terbesar di wilayah Jawa Barat yang memiliki penduduk paling banyak. Sebanyak 40% produks peternakan unggas di Indonesia diserap Jawa Barat, disusul Jawa Timur, DKI Jakarta dan Jateng.

"Selain menjadi pengkonsumsi unggas terbesar di Indoneia, Jabar juga termasuk penghasil daging dan telur unggas terbesar di Indonesia. Salah satu sentranya di Priangan," kata Aswin Pulungan.

Terkait adanya wabah virus H1N1 pada unggas akhir-akhir ini, kata dia tidak berpengaruh para peternakan dan tetap menjadi pilihan bagi masyarakat.

"Wabah H1N1 saat ini bukan ke ayam, tapi ke itik. Sehingga pasokan daging dan telur ayam tidak terpengaruh," kata Sekretaris DPP PPUI itu menambahkan.
Sumber : bisnis.com

Berkat Bebek, Ibu-ibu di Lamongan Raih Penghargaan

Ibu-ibu peternak itik (bebek) yang tergabung dalam Kelompok Sumber Rejeki Desa Tawangrejo, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, meraih dua pengharggan nasional pada 14 Desember lalu.

Mereka meraih penghargaan Adikarya Pangan Nusantara dan Ketahanan Pangan tahun 2012 kategori Pelaku Pembangunan Ketahanan Pangan dari Presiden RI.

Mereka menjadi pemenang pertama Kelompok Peternak Itik dalam Lomba Kelompok Peternak dan Petugas Berprestasi dari Menteri Pertanian. Mereka menerima hadiah uang operasional kelompok Rp 20 juta.

Ketua Kelompok Sumber Rejeki Musyarofah, Selasa (18/12/2012), menuturkan, anggota inti kelompok peternak sebanyak 40 orang dengan anggota binaan sebanyak 120 orang ibu-ibu.

Dari 856 keluarga di desanya, 839 keluarga diantaranya beternak itik (bebek). Setiap 100 ekor bebek bisa memberikan penghasilan hingga Rp 1,3 juta per bulan. Bibit calon indukan bisa dijual dengan harga Rp 60.000 per ekor.

Ia menyebutkan, dari 100 ekor mampu menghasilkan 70-80 butir telur per hari. Bibit anakan atau DOD (day old duck) hasil budi daya sendiri juga dijual.

Bibit betina berusia dua hari dijual Rp 6.000 per ekor, bibit pejantan Rp 4.000 per ekor. Populasi bebek di Tawangrejo juga terus bertambah.

Pada 2009, sebanyak 17.425 ekor, lalu pada 2010 menjadi 24.570 ekor dan pada tahun 2011 mencapai 33.294 ekor. Pada 2012, berhasil diproduksi telur sebanyak 138.861 kilogram, daging sebanyak 16.791 kg dan bibit itik 17.700 ekor.

Mereka juga memproduksi 20.762 butir telur asin dan 3.500 kg abon bebek. "Bebek kini menjadi sumber penghasilan utama kami," kata Musyarofah.
Sumber: Kompas.com

Pemerintah Harus Hati-hati Mengimpor Bebek

Sedikitnya 320.000 bebek atau itik di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur mati diduga akibat terserang virus flu burung yang diduga disebarkan bebek impor dari Australia. Virus flu burung yang menyerang itik lokal ini ditemukan pertama kali di Indonesia dan merupakan klad (clade) atau subgrup virus flu burung yang baru. Salah satu penyebabnya diduga dari aktivitas importasi itik yang tidak aman.

Anggota Komisi IV DPR RI Ma’mur Hasanuddin menyatakan hal itu dalam pernyataannya ke "PRLM", Minggu (16/12). “Wabah flu burung ini bukan yang pertama di Indonesia, tentu seharusnya pemerintah dapat lebih antisipatif dan preventif menangani kasus ini. Karenanya kerja sama lintas sektoral serta Kementerian harus diintensifkan, sehingga penyebarannya tidak meluas agar dapat di selesaikan sedini mungkin,” katanya.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan tidak ada masyarakat Indonesia tertular akibat virus flu burung H5N1 clade yang baru ini. Penularan clade ini pada manusia pernah dilaporkan di Cina, Hongkong dan Bangladesh. “Jika dugaan penyebaran flu burung ini akibat itik impor, berarti ada yang salah dalam penyelenggaraan aktivitasnya. Ada Undang-Undang nomor 18 tahun 2009 tentang peternakan dan kesehatan hewan yang pasti di langgar pada akvititas penyelenggaraan importat,: katanya,.

Pembentukan Undang-Undang ini juga mempertimbangkan komitmen Indonesia untuk melakukan penyesuaian dan penyetaraan peraturan perundang-undangan dengan ketentuan konvensi internasional. "Misalnya,General Agreement on Trade and Tariffs (GATT), khususnya tentang Agreement on the Application of Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS) yang mengatur tentang impor dan ekspor produk hewan dan perlindungan terhadap kehidupan atau kesehatan manusia, hewan, tanaman, dan lingkungan," katanya.(A-71/A-147). Sumber : pikiran-rakyat.com

Itik Muda Jadi Petelur, Tua Pedaging

Kebutuhan karkas itik lokal semakin meningkat seiring dengan berjamurnya pelaku usaha kuliner berbahan baku daging itik di berbagai kota seperti Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Peluang inilah yang menjadi alasan Ulung Irianto bersama kelompoknya membuka peternakan itik di daerah Bogor Jawa Barat.

Berbekal populasi sekitar 600 ekor itik, ia menggarap penjualan telur mentah dan usaha hilir berupa telur asin. Telur mentah dijual dipasaran sekitar Rp 1.600 – 1.700 per butir. Sedangkan telur asin Rp 2.500 per butir. “Dengan mengolah sendiri produksi telur mentah dapat memberikan nilai tambah dan perputaran uangnya cukup lumayan karena harga jualnya lebih tinggi,” ujar Ketua Kelompok Mitra Tohaga ini.

Tidak hanya itu, jika memasuki masa afkir, itik dijualnya sebagai pedaging dengan dibandrol Rp 40 ribu untuk berat hidup 1,5 kg per ekor. Hasilnya digunakan kelompok yang beranggotakan 10 orang ini sebagai tambahan untuk membeli pullet (itik yang siap bertelur di umur 7 bulan) yang harga per ekornya Rp 65.000. “Permintaan itik afkir ini cukup tinggi. Belum lama ini kami menjual 400 ekor itik yang sudah afkir,” jelasnya.

Rontok Bulu Sayap
Sebelum memutuskan itik yang dipelihara sudah memasuki masa afkir atau belum, perlu dipahami ciri–cirinya. Ulung menjelaskan, ciri itik afkir, telurnya tidak banyak dan tidak bertelur setiap hari. Dilihat secara fisik, jika sayap itik direntangkan dan bulu besarnya banyak yang rontok maka bisa diindikasikan masuk masa afkir.

Kalau lebih penasaran lagi, pengecekan itik bisa menggunakan telunjuk yang dimasukkan ke anus. Jika itik itu afkir maka di dalam saluran reproduksinya ketika diperiksa pasti kosong dan tidak ada telur. Pengecekan itik afkir dapat juga dilakukan pada tulang pubis (tulang kelamin) menggunakan jari. Jika 4 buah jari bisa pas ditulang pubis maka sudah masuk afkir dan pertanda itik sudah seringbertelur. Tapi kalau baru pas 3 jari ditulang pubisnya maka itik itu masih bagus bertelurnya.

Pria yang mulai beternak itik sejak 2010 ini mengatakan, itik yang memasuki masa afkir pada umur sekitar 26 bulan memang harus dikeluarkan. Jika tidak akan membebani biaya pakan yang semakin tinggi dibanding produksinya yang semakin menurun. “Jika dalam populasi 100 ekor dan produksi telurnya tidak sampai 50 % maka itik itu layak diafkir atau dijadikan pedaging,” tegasnya.

Sebelum memasuki masa afkir, itik mengalami 2 kali masa produktif bertelur. Sekali masa bertelur sekitar 10 bulan. Sebelum produktif bertelur kembali, selang masa bertelur itu, itik mengalami pergantian bulu dan tidak bertelur selama sekitar 2 bulan.

Itik Cihateup
Dalam beternak, Ulung lebih memilih itik lokal jenis Cihateup. Itik yang berasal dari daerah Tasikmalaya Jawa Barat ini rata–rata produksi telur sampai 60 % dan pada puncak produksi bisa sampai 85 %.

Ulung mengungkapkan, itik Cihateup yang merupakan itik asli Jawa Barat ini, lehernya lebih panjang, berat badannya lebih besar, dan berat telurnya bisa mencapai 70 gramper butir. “Selama masa periode bertelur bisa menghasilkan sekitar 250 butir telur per ekor,” ujarnya.

Kondisi lingkungan yang berbeda antara tempat asal itik Cihateup di daerah Tasikmalaya yang lebih dingin dengan di Bogor yang lebih panas, membuat itik membutuhkan waktu adaptasi hampir 2 bulan. Selama masa adaptasi itu, kondisi kandang dan pakan yang diberikan cukup mempengaruhi kondisi itik.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock edisi November 2012

Teknologi Pemuliaan untuk Peningkatan Produksi Itik

Ada 3 kategori sistem pemeliharaan yaitu (i) sistem ekstensif, dimana ternak itik digembalakan dari 1 tempat ke tempat lain untuk mencari sumber pakan di sawah-sawah yang selesai dipanen, (ii) sistem semi-intensif, dimana ternak itik dipelihara di sekitar pekarangan rumah dan itik mulai diberi pakan tambahan untuk memenuhi kebutuhan gizinya, dan (iii) sistem intensif, dimana ternak itik dipelihara terkurung sepanjang periode produksi telur dan kebutuhan pakan disediakan oleh peternak seluruhnya.

Hal tersebut dikemukakan oleh L. Hardi Prasetyo seorang peneliti di Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor dalam acara seminar nasional dan kongres I Indonesia Society of Animal Agriculture (ISAA) di Semarang. Dengan mengangkat tema “Pengembangan Aspek Zooteknis untuk Mendukung Sumberdaya dan Ternak Lokal” dengan diikuti oleh para akademisi, praktisi dan peneliti di bidang peternakan.

Hardi Prasetyo mengatakan, bahwa pemeliharaan itik secara intensif menimbulkan konsekuensi meningkatnya biaya produksi. Untuk itu, agar usaha ternak itik tetap menguntungkan dan menarik bagi peternak diperlukan aplikasi teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi, serta penerapan prinsip-prinsip ekonomis usaha. “Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan adalah penggunaan bibit unggul yang dihasilkan dari penerapan teknologi pemuliaan pada ternak-ternak yang memang potensial, di samping pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak secara tepat.,” ungkap Hardi Prasetyo.

Pengembangan bibit unggul
Hardi mencontohkan, seperti halnya pada berbagai komoditas ternak lain, itik juga sudah mengalami proses pemuliaan di beberapa negara. Bibit unggul itik petelur yang pasar utamanya di negara-negara Asia telah dihasilkan di Taiwan dan Vietnam melalui proses seleksi yang terarah. Itik petelur unggulBrown Tsaiya telah dihasilkan di Taiwan melalui proses seleksi selama 13 generasi dengan peningkatan produksi telur sampai umur 52 minggu dari 207 menjadi 229 butir dan umur pertama bertelur turun dari 126 hari menjadi hanya 108 hari tanpa mengurangi bobot telur. Seleksi terhadap sifat lain juga telah dilakukan di Taiwan untuk memperbaiki kekuatan kerabang telur, warna kerabang telur, fertilitas dan daya tetas telur.

Sedangkan di Vietnam, seleksi terhadap itik Co, yang diduga berasal dari Indonesia, dapat meningkatkan produksi telur selama 1 tahun sebesar14,5%. Untuk itik pedaging, di Taiwan telah dilakukan seleksi terhadap itik Manila (entog) dan itik Peking yang persilangan diantaranya menghasilkan itik Serati yang berbulu putih sebagai penghasil daging dan bulu halus (down feather). Di Perancis telah dikembangkan beberapa galur komersial dari itik Manila dan itik Peking pada tingkat GPS (Grand Parent Stock) dan PS (Parent Stock) untuk menghasilkan itik Serati sebagai penghasil daging dan hati (liver). Kriteria seleksi yang digunakan adalah terutama sifat-sifat produksi telur, kualitas karkas, dan sifat-sifat reproduksi.

Lebih jauh Hardi Prasetyo mengatakan, di Indonesia pemanfaatan teknologi pemuliaan juga telah dilakukan untuk menghasilkan bibit-bibit unggul ternak itik, baik petelur maupun pedaging. Peneliti di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) sendiri telah melakukan seleksi 5 generasi terhadap sekelompok itik Alabio dan itik Mojosari untuk menghasilkan itik hibrida petelur unggul hasil persilangan diantara kedua kelompok terseleksi tersebut. Hibrida tersebut, yang dinamakan Itik Master, mempunyai beberapa keunggulan yaitu (i) Rataan produksi telur setahun mencapai 71,5%, (ii) umur pertama bertelur 18 minggu, (iii) rataan puncak produksi telur mencapai 93,4%, (iv) konversi pakan 3,22, dan (v) anak itik jantan dan betina pada saat menetas dapat dibedakan dengan mudah dari warna bulunya.

“Hasil uji coba di tingkat peternak menunjukkan bahwa itik hibrida ini lebih unggul dari bibit induknya maupun silang balik kepada salah satu induknya, selama produksi telur 1 tahun,” terang Hardi Prasetyo yang juga aktif sebagai pengurus organisasi Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) ini.

Untuk itik pedaging, Balitnak telah merintis pengembangan galur bibit unggul baru yang berasal dari kombinasi antara itik Peking dan itik Mojosari putih. Hasil persilangan tersebut mengalami proses seleksi selama beberapa generasi untuk memperoleh galur baru yang stabil, sesuai dengan kebutuhan konsumen dalam negeri, dan untuk sementara disebut itik PMp. Adanya bibit unggul pedaging baru ini diharapkan dapat menggantikan bibit itik Peking yang selama ini diimpor, dan juga menyesuaikan dengan selera konsumen lokal yang lebih menghendaki itik potong ukuran sedang.

Keunggulan bibit itik PMp ini adalah bulunya yang putih sehingga menghasilkan warna dan kualitas karkas yang tinggi, mencapai bobot potong dalam umur 8-10 minggu dengan konversi pakan sebesar 3,8. “Jika konsumen memerlukan ukuran karkas yang lebih besar maka itik PMp ini dapat disilangkan dengan entog jantan untuk menghasilkan itik serati dengan bobot potong mencapai 3 kg dalam 10-12 minggu,” kata Hardi Prasetyo.

Implikasi dari tersedianya bibit unggul
Pengembangan bibit unggul sebagai galur komesial mampu meningkatkan produktivitas ternak itik lokal, melalui penerapan teknologi pemuliaan yang tepat sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. Peningkatan produksi telur per individu betina induk dari bibit unggul dapat mencapai 10-15% jika dibandingkan dari sebelumnya proses pemuliaan pada pemeliharaan intensif, namun jika dibandingkan dengan induk yang dipelihara secara ekstensif atau semi-intensif peningkatan dapat mencapai 30-40%.

Hal ini jelas menunjukkan adanya peningkatan kapasitas produksi per ekor induk baik dalam menghasilkan telur konsumsi, telur tetas maupun itik potong. Selanjutnya, untuk memperoleh manfaat tersebut perlu ada pengembangan sistem produksi yang benar dengan unit pembibitan yang terarah, dan dengan orientasi komersial dan skala usaha ekonomis.

“Hal inilah yang sampai saat ini masih sulit diwujudkan karena pada umumnya pemeliharaan ternak itik hanya sebagai kegiatan sambilan atau musiman sebagai pengisi waktu kosong antar pertanaman padi atau tanaman pangan lain.” Ungkap Hardi prasetyo.
(Sumber : Poultry Indonesia)

Sentra Itik Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan

Kabupaten Hulu Sungai Utara dikenal sebagai daerah sentra itik di Kalimantan Selatan. Di kancah nasional, masyarakat luas mengenal itik Alabio sebagai itik khas daerah ini dan Kalsel. Pengusahaan itik di daerah ini dilakukan secara perorangan dan melalui kelompok-kelompok ternak. Salah satu kelompok ternak itik yang secara aktif mengembangkan usaha dan keterampilan anggotanya adalah Kelompok Ternak Itik “Usaha Bahagia” di Desa Sungai Durait Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kelompok ini secara aktif mendapat pembinaan dari Dinas Peternakan setempat dan Prima Tani Kalsel. Bahkan kelompok ini telah menerima penghargaan dari Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan sebagai Juara Pertama Lomba Kelompok Ternak Itik Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2008.

Kelompok Ternak Itik “Usaha Bahagia” yang terbentuk tanggal 12 Mei 2002, pada mulanya hanya beranggotakan sebanyak 25 orang dengan usaha ternak itik sebagai penghasil telur konsumsi. Kini anggota Kelompok Ternak tersebut mencapai ratusan orang dengan berbagai spesialisasi usaha dari pembesaran itik, penghasil telur tetas, penghasil telur konsumsi, itik siap telur hingga pasca panen seperti pembuatan telur asin. Bahkan sekarang sebagian anggotanya telah memelihara ternak ayam buras. Populasi itik yang dimiliki oleh anggota kelompok adalah 38.595 ekor, dengan rata-rata kepemilikan per-anggota sebanyak 350 ekor. Sedangkan ayam buras populasinya mencapai 1.238 ekor.

Kelompok Ternak ini mengembangkan usaha dengan modal yang diperoleh dari modal sendiri atau kelompok dan pinjaman. Dalam tiga tahun terakhir, perkembangan modal kelompok terus menunjukkan peningkatan, terutama yang bersumber dari iuran wajib anggota dan modal swadaya. Bibit diperoleh dengan cara melakukan penetasan sendiri oleh sebagian anggota kelompok. Pengadaan bibit dari luar desa hanya dilakukan jika bibit yang tersedia dalam kelompok tidak mencukupi, desa luar yang menjadi sumnber bibit adalah Desa Mamar atau membeli di Pasar Alabio. Untuk menjalankan usahanya, kelompok ini telah memiliki peralatan ternak mesin tetas sebanyak 3 buah, mesin penghancur batang sagu 20 buah, mesin penghancur kalambuai (keong) 20 buah dan semprotan hama penyakit 50 buah.

Aspek Budidaya/Usaha (On Farm)

Jumlah kandang yang dimiliki anggota kelompok sebanyak 18 buah kandang anakan, 13 kandang itik dara dan 100 kandang itik dewasa. Konstruksi kandang umumnya berbentuk panggung terbuat dari kayu, berpetak-petak dengan kapasitas tampung terdiri dari untuk itik dewasa 4-6 ekor/m2, itik dara 10 ekor/m2 dan anak itik 20-30 ekor/m2. Pemeliharaan dilakukan secara intensif, setiap petak kandang disediakan tempat pakan dan air minum serta tempat bertelur. Dalam hal memilih bibit, anggota kelompok sudah terbiasa/ahli dalam memilih bibit sesuai petunjuk teknis.

Aspek Usaha Agribisnis Hilir

Usaha untuk meningkatkan nilai tambah dilakukan melalui pengolahan telur menjadi telur asin. Selain itu, dengan sistem kandang panggung umumnya bagian bawah kandang digunakan untuk kolam ikan sehingga bisa memanfaatkan pakan atau kotoran ternak yang jatuh sebagai pakan ikan. Limbah ternak (kotoran) juga diolah menjadi pupuk kandang untuk tanaman. Sistem pemasaran hasil oleh kelompok dilakukan melalui penjualan langsung telur atau itiknya oleh anggota ke pasar setempat atau keluar desa, dibeli pedagang pengumpul dan kemitraan serta dijual dalam bentuk telur asin ke pasar dalam dan luar kabupaten.

(Sumber : situs web BPTP Kalimantan Selatan)

Itik jadi Primadona Baru

Saat ini itik sudah mulai bisa menjadi primadona di Pasaman. Masyarakat yang tadinya hanya mengandalkan sumber pendapatan dari kebun karet kini berupaya mencari sumber-sumber pendapatan baru dengan mengembangan budidaya ternak.

Salah satunya mengembangan itik petelur dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong. Inilah yang dilakukan kelompok tani Harapan Baru di Nagari Air Manggis, Padang Sarai Kabupaten Pasaman.Adha, ketua Kelompok Tani Harapan Baru Nagari Air Manggis Pasaman mengatakan bahwa saat ini, budi daya itik petelur yang sedang dirintis oleh kelompoknya saat ini merupakan hasil dari bantuan pemerintah provinsi. Dana ini diserahkan secara bertahap oleh Pemprov Sumbar untuk 2011 kepada rekening kelompok tani yang dipimpinnya.

“Dana ini dicairkan oleh Pemerintah Provinsi Sumbar kepada kelompok tani ini secara 3 tahap, untuk tahap I diberikan pada bulan Oktober 2011 lalu sebesar 40 persen, kemudian untuk tahap selanjutnya yatu tahap II dan III diberikan masing-masingnya pada bulan November dan Desember lalu sebesar 30 persen,” jelasnya.


Tidak cuma itu, lanjut Adha, bantuan dari pemerintah Provinsi Sumbar terhadap kelompok tani ini tidak hanya diperoleh dengan gampang. Pasalnya, sebelum mendapatkan aliran dana bantuan tersebut, kelompok tani yang berjumlah 24 orang ini lebih dahulu mengajukan proposal jenis usaha yang akan dikembangkan oleh kelompok tani itu.

Budi daya itik petelur, dikatakannya, sepenuhnya berada di bawah asuhan dinas peternakan Pasaman. Sebabnya, budi daya itik petelur di Pasaman yang ada. Oleh sebab itu, usaha yang mulai dirintis oleh kelompok tani harapan baru ini merupakan contoh bagi peternak yang akan menjalani usaha dibidang yang sama nantinya.

“Dengan luas lahan 1 hektar milik salah satu anggota kelompok, jumlah itik yang ada saat ini mencapai angka 1.124 ekor itik dengan perbandingan 1.009 betina dan 115 ekor itik jantan, bibitnya sengaja kita beli dari Payakumbuh” jelasnya lagi.

Senada dengan yang dikatakan oleh ketua kelompok tani harapan baru tadi, Irzan, yang merupakan pembina di kelompok tani ini mengatakan bahwa setelah 3 bulan berjalan, saat ini budidaya itik petelur yang dikelola kelompok ini sudah menghasilkan sedikitnya 200 telur perharinya.

“Itik ini kita beli dalam keadaan sudah berumur 3,5 bulan, hal ini sengaja dilakukan karena keterbatasan dana bantuan yang diterima oleh keltan ini,untuk mensiasatinya, itik yang dibudidayakan adalah itik yang sudah beranjak dewasa, dan pemeliharaannyapun tidak memerlukan biaya yang besar,” ucap Irzan yang merupakan kepala bidang di dinas Peternakan Pemkab Pasaman.

Sebenarnya, lanjutnya, terdapat dua pilihan budidaya itik/bebek petelur yang umum dilakukan yaitu sistem gembala (angon) atau dikandangkan (semi intensif). Budidaya itik digembalakan sepintas menguntungkan, karena tidak membutuhkan pakan tambahan.

Namun, sebenarnya produktivitasnya tidak maksimal. Bila produktivitas itik kandang bisa mencapai 80 persen, itik paling-paling hanya 50 persen. Menggembalakan itik juga banyak tantangannya. Petani malas, lantaran bila masuk ke sawah bekas angonan tubuhnya gatal-gatal. Angon itik/bebek tergantung musim. Saat musim panen saja peternak bisa melakukan aktivitasnya, selebihnya tidak.

Berbeda dengan sistem angon, dengan budidaya itik di kandang (semi intensif) produksi bisa sepanjang tahun. Karena produktivitasnya optimal, keuntungan juga menjadi lebih tinggi. Budidaya itik semi intensif (dikandangkan) bisa berhasil.

Apabila sumberdaya manusia, manajemen kandang dan pakannya baik. Selain itu perhatian dan ketelatenan tak dapat diabaikan. Hal ini sangat beralasan karena itik termasuk hewan yang mudah stres. Ganti orang yang memberi pakan, langsung mogok bertelur.

Sistem budidaya itik petelur intensif lebih menekankan pada efisiensi dan efektivitas pengelolaan. Dari mulai pola pembibitan, pola pemberian pakan, pola pembesaran, penangan penyakit, pola perkandangan, kebersihan hingga hasil akhir melalui metode-metode yang teratur.

Dengan sistem intensif peternak dapat memperkirakan atau memperhitungkan besarnya modal dan besarnya keuntungan yang akan diraih. Produktivitas usaha terjamin. Petugas dinas perternakan tak jarang turun ke lapangan memberikan keterampilan mengenai peternakan itik.
(Sumber : www.padangekpress.co.id)

Kemaludin, Dokter "Endog" dari Tasikmalaya

Usianya baru 25 tahun. Pendidikan terakhirnya pun hanya madrasah aliyah. Namun, panggilan dokter ”endog” alias dokter telur telah melekat kepada Kemaludin, warga Kampung Sukahurip, Desa Sinagar, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pasiennya adalah ratusan penetas telur bebek, peternak bebek, dan petugas dinas peternakan di Tasikmalaya.

Sejak tahun 2009, Kemaludin bak pelita bagi siapa pun yang ingin menetaskan telur bebek. Beragam pertanyaan tentang penetasan telur bebek dijawabnya dengan senang hati, tanpa bayaran. Warung makan, pos ronda, rumah warga, dan tempat tinggalnya sendiri kerap menjadi ruang kelas. Biasanya, ia membawa alat pemeriksaan telur yang dibuat sendiri. Alat itu terbuat dari lampu neon 10 watt yang dibalut kertas tebal.

Kemaludin mengatakan, ada beberapa hal penting yang selalu ia tekankan untuk memeriksa telur. Hal itu di antaranya menjaga suhu ideal 36-37 derajat celsius, disiplin waktu pemeriksaan telur, serta cara melatih sensor hidung dan tangan untuk memeriksa apakah ada telur busuk atau tidak.

Pendampingan itu tidak sia-sia. Sendirian menetaskan telur tiga tahun lalu, kini sekitar 200 warga Sukaratu menekuni bidang ini. Ibu rumah tangga, pemuda pengangguran, dan buruh berpenghasilan minim sudah menikmati keuntungan dari usaha penetasan telur.

”Satu orang minimal menetaskan 300 telur per bulan dengan modal sekitar Rp 1,5 juta. Setelah dijual, biasanya penetas telur bisa mendapatkan keuntungan Rp 500.000- Rp 600.000 per bulan,” ujar Kemaludin.

Minim modal
Persinggungan Kemaludin dengan penetasan telur dipengaruhi ketiadaan biaya melanjutkan sekolah. Setelah memutuskan bekerja selama tiga tahun di Samarinda, Depok, dan Jakarta, Kemaludin melihat peternak bebek Sukaratu kerap kesulitan mendapatkan anakan. Peternak harus membeli anak bebek ke kecamatan lain di Kabupaten Tasikmalaya, bahkan hingga ke Kota Tasikmalaya.

”Dari situ saya pikir, peluang itu bisa saya manfaatkan. Modal nekat karena sebenarnya terbentur biaya dan pengetahuan penetasan telur bebek,” katanya.

Akhir tahun 2008, Kemaludin pun mulai mempersiapkan amunisinya. Berbekal uang tabungan Rp 500.000, ia membeli buku mengenai penetasan telur, bertanya kepada peternak bebek setempat, dan survei harga ke pedagang telur dan anakan bebek. Saat itu, kendala terbesarnya adalah kebutuhan akan media penetasan. Bila membeli peralatan penetasan buatan pabrik, dibutuhkan modal Rp 1,5 juta-Rp 2 juta per unit. Jumlah tersebut tidaklah mungkin ia dapatkan saat itu.

Otaknya dipaksa berpikir. Hingga suatu waktu ia melihat lemari baju pakaian milik saudaranya yang tak terpakai lagi. Dia pun berkreasi dengan alat yang ada. Dengan menambahkan tiga lampu berkekuatan 5 watt dan termometer, Kemaludin mengubah lemari itu menjadi media penetasan darurat dengan kapasitas 300 butir telur.

Awalnya, metode itu tidak berjalan semulus harapan. Setelah 28 hari masa penetasan, hanya 100 telur dari 200 telur yang menetas. Sisanya busuk dan tidak menetas. Penyebabnya, listrik yang sering putus di Sukaratu. Dalam sehari, listrik bisa padam berjam-jam tanpa sebab pasti. Akibatnya, telur tak mendapatkan suhu hangat ideal sehingga memicu kematian janin.

”Telur mati atau busuk harus segera disingkirkan karena berbahaya merusak telur lain. Gas amoniak dari telur busuk bisa menular pada telur lainnya,” katanya.

Untuk mengatasi masalah putus sambung listrik, Kemaludin berinovasi dengan minyak jelantah. Diletakkan di bawah media penetasan, pemanas berbahan bakar minyak jelantah menjadi bahan bakar alternatif penghangat telur. Hasilnya memuaskan. Saat listrik putus, telur mendapat kehangatan dari api berbahan minyak jelantah. ”Tingkat kegagalan penetasan telur bisa ditekan menjadi 2-3 persen,” katanya.

Pemuda pelopor
Perlahan, jumlah telur yang ditetaskan semakin banyak dan memberikan keuntungan ekonomi lebih besar. Keuntungannya, digunakan untuk membuat media penetasan baru. Pengembangan teknis dilakukan untuk memaksimalkan hasil penetasan.

Dia pun kemudian memodifikasi media penetasan ala lemari baju itu. Kemaludin membuat lemari kayu khusus tingkat empat berukuran 124 x 70 x 60 sentimeter. Lemari dengan dimensi seperti itu mampu menampung 500-600 telur. Media penetasan baru itu dilengkapi lima lampu berkekuatan 5 watt, termometer, pemutus arus bila suhu terlalu tinggi, dan higrometer untuk mengukur kelembaban media penetasan.

Telur yang ditetaskan bertambah banyak. Dalam sebulan, ia bisa menetaskan 5.000 telur dengan omzet Rp 15 juta per bulan. Bebek hasil penetasan berusia 2-3 hari dijual Rp 6.500 per ekor untuk betina dan Rp 2.500 per ekor untuk jantan. Nyaris tidak ada yang tersisa karena sebelum menetas, telur sudah dipesan peternak bebek.

”Pernah ada pesanan dari perusahaan katering maskapai penerbangan terbesar di Indonesia. Mereka meminta 1.000 bebek per hari. Terpaksa ditolak karena kami belum mampu menyediakan,” kata Kemaludin.

Keberhasilannya memutar otak dan memberdayakan masyarakat sekitar menimbulkan pengakuan positif. Inovasi pembuatan alat tetas sederhana membawanya merengkuh Pemuda Pelopor Kabupaten Tasikmalaya dan Jawa Barat pada tahun 2011 di bidang teknologi tepat guna. Ia menyisihkan karya pemuda lain bermodal puluhan kali lebih besar.

Akan tetapi, Kemaludin mengatakan tidak mau tinggi hati. Lewat Kelompok Penetasan Unggas Jaya Mekar Sukaratu yang digagas bersama teman-temannya, ia mengajak pemuda desa yang tak bekerja dan berpenghasilan minim untuk usaha menetaskan telur. Satu media penetasan dihibahkan untuk digunakan semua anggota.

”Sekarang baru ada satu media tetas yang diputar bergiliran sebulan sekali kepada 30 anggota. Prioritas diberikan bagi yang belum punya media penetasan. Kalau sudah ada uang, saya ingin buat beberapa lagi,” katanya.

Selain itu, ia juga masih belajar tentang peningkatan nilai ekonomi telur bebek, seperti mengolahnya menjadi makanan olahan dan pembesaran bebek.

”Banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Semoga di tengah keterbatasan modal, kami bisa terus berinovasi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat,” kata Kemaludin.
(Sumber : www.bisniskeuangan.kompas.com

Itik Pedaging Panen 40 Hari

Membengkaknya permintaan itik pedaging membuat kehadiran itik pedaging unggul yang cepat panen sangat diperlukan. Apalagi saat ini itik pedaging yang dipakai merupakan itik petelur. Bila itik petelur terus dipakai akan terjadi pengurasan sumber daya genetik itik petelur. Oleh karenanya banyak peternak melakukan penyilangan untuk mendapatkan itik pedaging cepat panen.

Di Jatijajar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, H Engko Koswara juga memelihara itik pedaging yang dipanen 40 hari. Itik itu merupakan keturunan ke-3 (F3) dari persilangan antara jantan itik peking dan betina itik pajajaran. Menurut Engko F3 yang dihasilkan sudah 80% mirip itik lokal. Leher panjang, dan warna bulu dominan campuran cokelat dan putih atau kehitaman dan putih. “Darah pekingnya terlihat dari ukuran tubuh dan pantat itik yang besar,” ungkap Engko yang mulai menyilangkan itik sejak 2005.

Bebek silangan tanpa nama itu istimewa karena bobot 1,5 kg diperoleh dalam waktu 40 hari. Bahkan keturunan pertama (F1) bisa mencapai bobot 1,6 - 1,7 kg dalam waktu 30 hari. Engko memang tidak mempertahankan kehadiran F1 sebab ketua kelompok ternak bebek Family itu berharap itik barunya tetap bersosok itik lokal. “Pada F1 sekitar 60% masih mirip itik peking, lehernya pendek dan bulunya putih,” katanya.

Masih di wilayah Jawa Barat, Abdul Wahid di Kabupaten Cirebon pun beternak silangan F3 antara jantan itik peking dan betina rambon. Seperti Engko, Wahid yang pertama kali menyilangkan itik pada 2008 itu menginginkan itik silangannya seperti itik lokal. “Meski F3 sudah mirip, berbulu cokelat, tapi belum stabil untuk dijadikan induk. Sampai sekarang masih terus disilangkan,” kata Wahid yang memberi nama bebek cirebon alias BC pada itik baru itu.

Bebek cirebon memiliki keunggulan lantaran bisa mencapai bobot 2 kg selama 60 hari pemeliharaan. Bila berpatokan pada ukuran pasar - 1,4 - 1,5 kg per ekor - itik bisa dipanen sekitar 45 hari masa budidaya.

Sayangnya itik baru itu rakus pakan, tidak seperti itik baru silangan Yanto dan Engko yang porsi pakannya seperti memelihara itik biasa. “Pakan itik BC bisa 3 kali lipat,” ujar Wahid yang memberi campuran pakan terdiri dari menir, dedak, dan konsentrat dengan perbandingan 4:4:1 itu. Sebagai ilustrasi untuk 100 itik rambon jumlah pakan yang dibutuhkan 16 kg/hari, sementara itik BC dengan populasi sama perlu sekitar 45 kg/hari.

Pasar butuh
Peternak seperti Yanto, Engko, dan Wahid pada mulanya memang tidak berniat menghasilkan itik baru yang pertumbuhannya lebih cepat. Mereka memanfaatkan induk itik peking yang awalnya dipelihara sebagai pedaging. “Setelah dipelihara ternyata pasar itik peking belum terbuka sehingga sulit memasarkannya,” kata Wahid yang merugi hingga puluhan juta rupiah itu. Itik peking yang masih tersisa kemudian dipelihara dengan cara disatukandangkan bersama itik rambon yang berujung munculnya itik baru.

Faktor ‘ketidaksengajaan’ itu kini secara tidak langsung menjadi solusi dari sulitnya memperoleh pasokan itik pedaging untuk memenuhi permintaan rumah makan, restoran, dan warung-warung tenda penyedia menu bebek yang terus meningkat. Sebagai gambaran seretnya pasokan tercermin dari kebutuhan sebuah rumah makan penyedia itik di Jakarta Selatan. “Kebutuhan sehari 75 ekor, tapi dalam seminggu hanya 2 - 3 hari yang bisa penuh terisi,” ujar Sugeng Widodo, pemilik yang bermitra dengan 3 pengepul itu.

Kondisi serupa juga tampak di restoran Bebek Garang di Bandung, Jawa Barat, misalnya. Dari kebutuhan 100 itik per hari, tidak sepenuhnya terpasok. Padahal, pada akhir pekan kebutuhan itik melambung hingga 120 - 150 ekor. “Barang mulai sulit dicari, apalagi untuk ukuran karkas 8 - 9 ons,” kata Berry Syah Maulana, manajer pemasaran. Itu pula yang juga dialami Ali, pemilik warung bebek di bilangan Boromeus Bandung yang menyerap hingga 150 ekor per hari.

Bergeser ke hulu, peternak pembesar saat ini memang kesulitan menggenjot produksi karena pasokan day old duck (DOD) itik pedaging masih terbatas. Penetas DOD seperti Suherman, misalnya, meski sudah menggenjot produksi hingga 45.000 DOD, tetap kelimpungan. “Permintaan sampai 100.000 DOD per bulan,” kata penetas di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu.

Imbasnya seperti dialami Dody Faizal, peternak di Mojokerto, Jawa Timur. Permintaan yang datang berulang-ulang kerap ditolak. “Saat ini yang bisa dipasok sekitar 500 ekor/minggu,” kata Dody yang memelihara 4.000 itik mojosari itu. Hal sama diungkapkan oleh Ade, Uyu, dan Arifin - ketiganya pengepul itik di Bandung, Jawa Barat. “Untuk mendapat 500 ekor per hari saat ini sulit bukan main,” kata Ade yang mensyaratkan karkas berbobot 6 - 8 ons itu. Padahal, permintaan pelanggan yang mesti dilayani mencapai 1.000 ekor/hari.

Silangan
Sejak 2 tahun lalu kondisi pasar itu sudah diprediksi Acas Sarminto. “Tanpa inovasi dalam pengembangan itik sulit memenuhi kebutuhan pasar,” kata peternak di Surabaya, Jawa Timur, itu. Acas yang mengembangkan itik peking pun mulai berkonsentrasi menyilangkan itik peking dan itik mojosari. “Hasil silangan ini sudah ada sekitar 1.000-an ekor,” kata pemilik Gerai Bebek Peking yang menargetkan panen itik berbobot 1,8 kg dalam waktu 50-an hari itu.

Pun Sofwan di Jombang, Jawa Timur. Sofwan saat ini membesarkan itik raja silangan jantan itik mojosari dan betina alabio yang diperoleh dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak) di Ciawi, Kabupaten Bogor. “Itik raja bisa dipanen setelah berumur 40 - 42 hari dengan bobot 1,2 - 1,3 kg/ekor,” kata koordinator PPL di Kecamatan Wonosalam yang kini memelihara 600 itik raja.

Balitnak pun tidak ketinggalan untuk memasok itik unggul pedaging. Menurut Dr Hardi Prasetyo MAgr Sc, Balitnak telah meluncurkan itik pedaging PMp yang merupakan hasil persilangan antara itik jantan peking dan betina itik mojosari putih. Kehadiran itik yang pada umur 10 pekan dapat mencapai bobot 2 - 2,5 kg/ekor dengan kulit bersih dan cerah itu diharapkan mampu mengurangi pemakaian itik petelur yang saat ini sumber itik pedaging. “Dengan begitu tidak terjadi pengurasan sumberdaya genetik itik petelur,” ujar peneliti madya bidang Penelitian, Pemuliaan, dan Genetika Ternak di Balitnak itu.

Meski itik-itik silangan baru itu sudah diternak, tetapi sejauh ini ketersediaan DOD masih menjadi kendala. Faktor itu muncul lantaran belum stabilnya genetik itik-itik baru itu. Maka dari itu wajar bila harga DOD itik baru bisa mencapai 2 - 3 kali lipat harga DOD itik biasa yang berkisar Rp3.000 - Rp4.000 per ekor itu. Toh sebagai salah satu solusi sumber pasokan kehadiran itik-itik baru itu pantas dilirik. (Dian Adijaya S/Peliput: Faiz Yajri, Tri Susanti, dan Rosy Nur Apriyanti)
Sumber : www.trubus-online.com

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

Komoditas unggas mempunyai prospek pasar yang sangat baik karena didukung oleh karakteristik produk unggas yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia yang sebagian besar muslim, harga relatif murah dengan akses yang mudah diperoleh karena sudah merupakan barang publik. Komoditas ini merupakan pendorong utama penyediaan protein hewani nasional, sehingga prospek yang sudah bagus ini harus dimanfaatkan untuk memberdayakan peternak di perdesaan melalui pemanfaatan sumberdaya secara lebih optimal.

Industri perunggasan di Indonesia berkembang sesuai dengan kemajuan perunggasan global yang mengarah kepada sasaran mencapai tingkat efisiensi usaha yang optimal, sehingga mampu bersaing dengan produk-produk unggas dari luar negeri. Pembangunan industri perunggasan menghadapi tantangan global yang mencakup kesiapan dayasaing produk perunggasan, utamanya bila dikaitkan dengan lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan, yang merupakan 60-70 persen dari biaya produksi karena sebagian besar masih sangat tergantung dari impor. Upaya meningkatkan dayasaing produk perunggasan harus dilakukan secara simultan dengan mewujudkan harmonisasi kebijakan yang bersifat lintas departemen. Hal ini dilakukan dengan tetap memperhatikan faktor internal seperti menerapkan efisiensi usaha, meningkatkan kualitas produk, menjamin kontinuitas suplai dan sesuai dengan permintaan pasar.Ternak ayam lokal dan itik dapat menjadi alternatif yang cukup menjanjikan dengan pangsa pasar tertentu, dimana hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa usaha peternakan ayam lokal dan itik cukup menguntungkan dan dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan keluarga.

Profil usaha di sektor primer menunjukkan bahwa usaha peternakan ayam ras pedaging cukup memberikan peluang usaha yang baik, sepanjang manajemen pemeliharaan mengikuti prosedur dan ketetapan yang berlaku. Hal ini ditunjukkan dengan nilai B/C yang diperoleh secara berturut-turut sebesar 1,16; 1,28 dan 1,25 pada usaha mandiri, pola kemitraan inti-plasma dan pola kemitraan poultry shop dengan skala usaha 15 ribu ekor. Indikasi yang hampir sama juga terjadi pada ayam ras petelur pada skala usaha 10 ribu ekor, dengan nilai B/C adalah 1,29 dan 1,13 masing-masing untuk usaha mandiri dan pola kemitraan dengan poultry shop. Hal ini memberikan indikasi bahwa usaha peternakan ayam ras petelur mempunyai keuntungan yang relatif baik bagi para peternak. Sedangkan hal tersebut untuk usaha ayam lokal dan ternak itik masing-masing nilai B/C adalah 1,04 dan 1,2.

Salah satu prospek pasar yang menarik dan perlu dikembangkan adalah industri pakan unggas, dimana biaya pakan ini merupakan komponen tertinggi dalam komposisi biaya produksi industri perunggasan, berkisar antara 60-70 persen. Diproyeksikan masing-masing pada tahun 2010 dan tahun 2020, impor jagung dapat mencapai 4 juta ton dan 8 juta ton jika produksi jagung nasional tidak tumbuh. Jagung untuk pakan unggas memiliki prospek pasar yang sangat baik, dimana dinyatakan bahwa jika industri unggas tumbuh dengan baik, maka kebutuhan akan jagung juga terus meningkat. Pengembangan komoditas jagung perlu mendapatkan perhatian baik oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat petani.

Pengembangan unggas ke depan harus mulai dipikirkan di luar Jawa, dimana ketersediaan pasokan bahan pakan masih memungkinkan, serta prospek pemasaran yang baik. Pengalaman wabah Avian Influenza (AI) beberapa waktu yang lalu memberi pelajaran bahwa sudah saatnya dilakukan desentralisasi industri perunggasan nasional. Upaya ini akan sangat baik ditinjau dari berbagai aspek, baik teknis, ekonomis maupun sosial, dan dalam hal ini memerlukan dukungan kebijakan termasuk ketersediaan inovasi teknologi yang sesuai dengan perkembangan usaha.

Peranan pemerintah juga harus memperhatikan pada pengelolaan pasar, utamanya untuk: (a) melindungi industri ayam dalam negeri dari tekanan persaingan pasar global yang tidak adil, (b) mencegah persaingan tidak sehat antar perusahaan di pasar dalam negeri, (c) pengembangan sistem pencegahan dan penanggulangan wabah penyakit menular, serta (d) dukungan pembangunan infrastruktur penunjang lainnya. Untuk memberi kepastian berusaha pada peternakan mandiri perlu dibuat mekanisme yang menjamin transparansi dalam hal informasi produksi d.o.c., biaya bahan-bahan input, serta kondisi pasar (permintaan, produksi, dan harga).

Potensi dan arah pengembangan ayam lokal lebih difokuskan terhadap kerentanan potensi genetik terhadap penyakit unggas, sehingga konservasi terhadap plasma nutfah ayam lokal menjadi sangat penting.Potensi dan arah pengembangan itik dititikberatkan pada perbaikan bibit, sehingga terjadi perbedaan antara itik untuk bibit dan itik untuk produksi. Program intensifikasi itik, dengan merubah pola pemeliharaan tradisional menjadi pemeliharaan terkurung atau intensif perlu dipertimbangkan dalam arah pengembangan peternakan unggas ke depan. Keadaan sawah yang semakin intensif menyebabkan jarak antara panen dan tanam menjadi semakin sempit yang menyebabkan semakin terdesaknya itik gembala. Penggunaan pestisida yang kurang bijaksana dapat menyebabkan kematian itik secara langsung dan menurunnya ketersediaan pakan itik di sawah berupa ikan kecil, cacing, katak dll. secara tidak langsung.

Pengembangan agribisnis komoditas ternak unggas diarahkan untuk: (a) menghasilkan pangan protein hewani sebagai salah satu upaya dalam mempertahankan ketahanan pangan nasional, (b) meningkatkan kemandirian usaha, (c) melestarikan dan memanfaatkan secara sinergis keanekaragaman sumberdaya lokal untuk menjamin usaha peternakan yang berkelanjutan, dan (d) mendorong serta menciptakan produk yang berdayasaing dalam upaya meraih peluang ekspor.

Tujuan pengembangan agribisnis komoditas unggas adalah (a) membangun kecerdasan dan menciptakan kesehatan masyarakat seiring dengan bergesernya permintaan terhadap produk yang aman dan berkualitas, (b) meningkatkan pendapatan peternak melalui peningkatan skala usaha yang optimal berdasarkan sumberdaya yang ada, (c) menciptakan lapangan kerja yang potensial dan tersebar hampir di seluruh wilayah, dan (d) meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan devisa negara.

Kebijakan peternakan unggas diarahkan pada visi pemberdayaan peternak dan usaha agribisnis peternakan, peningkatan nilai tambah dan dayasaing dengan misi mendorong pembangunan peternakan unggas yang tangguh dan berkelanjutan. Salah satu kebijakan yang diperlukan dan berpengaruh efektif mencapai visi tersebut adalah kebijakan dalam memperluas dan meningkatkan basis produksi melalui peningkatan investasi swasta, pemerintah dan masyarakat; serta kebijakan pewilayahan komoditas dan peningkatkan penelitian, penyuluhan dan pendidikan bagi peternak disertai pengembangan kelembagaan.

Apabila sasaran pengembangan agribisnis komoditas ternak unggas ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan protein hewani pada 10 tahun mendatang, maka setara dengan 1.250 milyar ekor denagn nilai mencapai Rp. 24,5 trilyun. Pelaku investasi pengembangan agribisnis komoditas unggas dibedakan dalam tiga kelompok, yakni investasi yang dilakukan oleh rumah tangga peternak (masyarakat), swasta dan pemerintah.

Kebutuhan investasi masyarakat untuk pengembangan agribisnis ayam ras pedaging dan petelur berkisar antara 10-20 persen, masing-masing sebesar Rp.1 trilyun untuk memenuhi kebutuhan daging dan telur. Estimasi kebutuhan investasi masyarakat untuk pengembangan agribisnis komoditas ayam lokal dan itik adalah sekitar 60 persen, berturut-turut adalah sebesar Rp. 4,5 trilyun dan Rp. 1,5 trilyun. Investasi masyarakat dalam hal ini dapat berupa investasi sumberdaya dan produksi yang meliputi aset tetap seperti lahan, kandang dan tenaga kerja. Sumber pembiayaan dapat berupa kredit dari perbankan maupun lembaga keuangan formal lainnya, serta tidak menutup kemungkinan lembaga keuangan non-formal seperti pinjaman kelompok maupun koperasi bersama.

Pangsa kebutuhan investasi swasta untuk pengembangan agribisnis komoditas ayam pedaging dan petelur rata-rata berkisar antara 80 persen, berturut-turut adalah sebesar Rp. 9,5 trilyun dan Rp. 3,8 trilyun. Estimasi kebutuhan investasi swasta untuk pengembangan komoditas ayam lokal dan itik adalah sekitar 10 persen, dengan nilai Rp. 0,5 trilyun untuk ayam lokal dan Rp. 250 milyar untuk ternak itik. Bentuk investasi swasta dapat berupa peningkatan penyediaan sarana input seperti peningkatan pasokan bibit, pabrik pakan, peralatan serta obat dan vaksin. Investasi di sektor hilir seperti pabrik pengolahan dan prosesing produk unggas seperti penyediaan sarana cold storage dan pembangunan pabrik tepung telur perlu mendapat perhatian yang serius.

Investasi produksi yang berupa infrastruktur oleh pemerintah sangat diperlukan seperti penyediaan benih jagung unggul, penanganan pascapanen berupa pembuatan silo dan sarana transportasi. Estimasi kebutuhan investasi pemerintah untuk pengembangan agribisnis komoditas ayam ras pedaging dan petelur masing-masing adalah sebesar 5 persen, yakni Rp. 500 milyar untuk ayam ras pedaging dan Rp. 200 milyar untuk ayam ras petelur. Pada pengembangan komoditas ayam lokal dan itik, hal tersebut rata-rata berkisar antara 30 persen, dengan nilai berturut-turut Rp. 1 trilyun dan Rp. 750 milyar. Investasi pemerintah utamanya terfokus pada kegiatan promosi dalam upaya meningkatkan konsumsi daging dan telur yang aman, sehat, utuh dan halal. Pelayanan penyuluhan dan pendidikan kepada masyarakat sejak usia dini tentang manfaat mengkonsumsi daging dan telur perlu dilakukan secara konsisten. Peran pemerintah juga diharapkan dalam aspek penelitian dan pengembangan, utamanya dalam hal menyediakan alternatif bahan baku pakan berdasarkan sumberdaya lokal. Demikian pula halnya dengan identifikasi dan evaluasi untuk pengembangan ayam lokal yang resisten terhadap penyakit, serta peningkatan mutu genetik itik.

Untuk mencapai visi, misi dan tujuan program pembangunan pertanian diperlukan kebijakan pendukung. Beberapa kebijakan pendukung yang diperlukan adalah (a) kebijakan pendukung dalam membentuk lingkungan investasi yang kondusif, utamanya dalam hal pelayanan investasi khususnya investasi di luar sektor pertanian, (b) kebijakan dalam hal mempromosikan produk unggas, (c) dukungan kebijakan dan inovasi dalam hal tata-ruang, kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, serta penegakan aturan yang terkait dengan lalulintas ternak dalam kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah dan perdagangan global, (d) kebijakan pendukung dalam rangka pencegahan penyakit, utamanya dalam memperkuat pelayanan laboratorium dan pos-pos kesehatan hewan, serta kebijakan penyuluhan tentang bahaya dan pencegahan penularan penyakit unggas, dan (e) perlu membuat kebijakan tentang kemitraan agribisnis perunggasan yang adil baik bagi mitra maupun bagi inti melalui pembagian resiko dan keuntungan yang adil.

(Sumber : http://www.litbang.deptan.go.id/special/komoditas/b5unggas)

Orientasi Usaha Agribisnis Itik

Beternak itik bagi sebagian orang terasa lebih menjanjikan daripada beternak unggas jenis lainnya. Pertama, produk yang dihasilkan yaitu telur terasa lebih ‘dihargai’ sebab penjualannya dihitung bijian bukan kiloan sebagaimana halnya telur ayam ras. Ke dua, cara pemeliharaan dan perawatan yang relatif mudah serta lebih tahan terhadap penyakit. Ke tiga jumlah permintaan telur yang terus naik dari tahun ke tahun. dan Ke empat yaitu permintaan akan daging konsumsi juga tinggi.

Dari gambaran di atas sebenarnya masih ada ruang atau kesempatan yang sangat luas untuk memulai usaha ini. Akan tetapi timbul masalah bagi pemula yaitu dari mana memulai usaha ternak itik? Apa sebaiknya beternak itik untuk menghasilkan telur saja, apa beternak itik untuk menghasilkan DOD, atau usaha pembesaran DOD, atau penetasan? Nah berikut gambaran singkat tentang beberapa pilihan usaha dalam menjalankan bisnis ini.

Ada beberapa pilihan dalam menentukan langkah memulai usaha :
  1. Mengkususkan usaha untuk menghasilkan telur tetas. Untuk menghasilkan telur tetas yang baik ratio jantan dan betina adalah 3-5 pejantan untuk 50-100 ekor itik betina. Di sarankan terdapat kolam di dalam kandang untuk aktifitas berenang itik agar terjadi proses kawin secara alami. Telur itik yang sudah terkumpul di tetaskan dengan bantuan mesin penetas karena naluri mengeram itik sangat rendah atau bahkan tidak ada. Bisa juga dengan bantuan jasa menthok, akan tetapi hal ini akan menambah biaya lagi untuk pemeliharannya. Lama penetasan baik dengan mesin penetas atau menthok ± 28 hari. Lama penyimpanan telur tetas yang baik adalah kurang dari 7 hari.
  2. Usaha penetasan, yaitu menetaskan telur itik menjadi DOD (Day Old Duck). Karena lama penetasan yang lebih panjang dari pada telur ayam maka perlu pertimbangan lagi untuk memulai usaha ini. Ada dua hal yang penting dalam memulai usaha ini yaitu bagaimana cara mendapatkan telur tetas yang baik dan memilih mesin penetas. Anda bisa membuka artikel kami lainnya untuk penjelasan ke dua hal tersebut. Keuntungan dalam usaha ini akan berlipat apabila begitu DOD menetas langsung dapat terjual, kalau tidak maka perlu biaya tambahan untuk memelihara DOD untuk beberapa jangka waktu beberapa hari. Kami menyarankan bagi peternak pemula untuk mencari relasi yang dapat dipercaya sebagai penyuplai telur tetas karena menyangkut nama baik usaha yang akan kita rintis. Sekali citra usaha kita buruk maka agak sulit untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Lebih aman kalau kita memiliki pembibitan (breeding) sendiri untuk menjaga kualitas dan kontuinitas usaha.
  3. Pembesaran DOD untuk dijadikan pedaging. Beberapa tahun terakhir usaha ini sudah banyak mendapat perhatian dari para investor. Pada umumnya DOD yang dijadikan sebagai pedaging adalah DOD jantan. Kenapa? Di samping harga bibitnya lebih murah juga kelebihan tingkat pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang lebih cepat jika dibandingkan dengan betina. Masa pemeliharaan yang relatif singkat yaitu sekitar 2 – 3 bulan juga menjadi daya tarik tersendiri. Untuk para pemula yang akan terjun dalam bisnis ini harus pandai-pandai berhitung soal pakan karena fluktuasi harganya yang gampang berubah.
  4. Usaha pembesaran DOD sampai menjelang bertelur (bayah). Bayah adalah sebuatan itik betina siap bertelur yang berumur kira-kira 4-5 bulan. Biasanya system pemeliharaan bayah lebih banyak digembalakan karena di samping untuk lebih menekan biaya pakan juga untuk memberi kesempatan itik untuk berburu pakan alami kesenangannya seperti cacing, ikan-ikan kecil dan juga sebagai sarana exercise agar tubuh tidak kegemukan sehingga dapat menghambat produksi nantinya. Setelah itik sudah menandakan tanda-tanda akan bertelur maka itik bisa ditawarkan kepada calon pembeli. Ada satu trik saat menjual bayah yaitu usahakan menjual bayah ketika itik sudah mulai bertelur dan itu akan membawa ke harga jual yang lebih yang tinggi. Kita bisa menaikkan harga sampai Rp 500,- per ekor dan kita bisa bayangkan kalau bayah yang kita jual per minggu ada 100 ekor???
  5. Usaha beternak itik untuk di ambil telurnya. Usaha ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat kita. Peternak bisa memeliharanya dari semenjak DOD atau langsung membeli itik siap bertelur (bayah). Keuntungan kalau kita memelihara sejak DOD adalah kita tahu tingkah laku ternak yang kita perlihara sehingga kita lebih paham akan kondisi ternak. Akan tetapi ada juga sisi kelemahannya yaitu butuh kesabaran waktu dan modal karena kita terus mengeluarkan uang sejak DOD sampai itik-itik tersebut mulai bertelur. Adapaun sisi kelebihan kalau kita membeli langsung dari bayah adalah kita akan langsung dapat memetik hasilnya dalam waktu dekat. Sisi kelemahannya yaitu butuh modal yang besar, dan juga kesiapan mental untuk menghadapi stress yang tinggi karena perpindahan lokasi dan juga perbedaan penanganan ternak.
(Dari berbagai sumber/wd-12102011)