Tampilkan postingan dengan label Pasca Panen Itik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasca Panen Itik. Tampilkan semua postingan

Telur Ayam 3 in 1 Temuan Guru Besar IPB Ini Antiflu Burung

Guru besar Institut Pertanian Bogor Prof Retno D Soejoedono menemukan telur "Immunoglobulin Y" (Ig Y), yang bisa digunakan untuk memproduksi antibodi.

"Telur ini memiliki khasiat anti terhadap berbagai macam penyakit, di antaranya penyakit flu burung, tetanus, dan diare," katanya dikutip dari Tribun Jabar (Tribunnews.com Network), Minggu (30/12/2012).

Ia menjelaskan, telur ayam yang dapat dijadikan sebagai pabrik biologis yang bisa digunakan untuk memproduksi antibodi juga dapat digunakan sebagai imunoterapi (imunisasi masif).

Retno, ahli Kedokteran Hewan IPB itu, melakukan uji coba pada telur, didasari fakta bahwa telur ayam memegang peranan penting dan strategis dalam menopang kesehatan masyarakat.

Apalagi, telur ayam merupakan sumber protein hewani yang sangat tinggi, murah, mudah disimpan dan diolah, serta terjangkau oleh berbagai berbagai kalangan masyarakat.

Selain itu, menurut dia, juga sejalan dengan isu "animal welfare". Hasil karya ciptanya itu saat ini dalam
proses tahap dipatenkan. Ia berharap karyanya dapat segera diaplikasikan pada kalangan industri, bahkan usaha ternak skala kecil.

Menurut dia, sebetulnya sudah ada pihak yang melirik hasil karya ciptanya itu dari luar negeri. Namun ia masih ingin melihat karyanya dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia.
Retno mengatakan, teknologi "Ig Y" ini memiliki keuntungan dibandingkan dengan penggunaan pada kelinci atau mamalia lain sebagai produsen antibodi dengan telur, yakni pemeliharaan ayam relatif murah. Selain itu, koleksi telur tidak menyakiti hewan dibandingkan dengan pengambilan darah sehingga sejalan dengan "animal welfare".

Sebutir telur temuannya itu mempunyai kandungan 50 hingga 100 mg Ig-Y, setara dengan 200 mg Ig-G/40 ml darah yang dihasilkan dalam sekali pemanenan darah kelinci. "Jadi telur sebagai pabrik antibodi dapat dikatakan sebagai proses pemanenan yang sangat sederhana," ujarnya.

Selain itu, kata Retno, telur dapat disimpan dengan mudah dalam jangka waktu yang relatif lama, menghasilkan respons imun yang spesifik, dan tidak memiliki efek samping karena tidak bereaksi dengan Ig-G mamalia.
Sumber : Tribunnews.com

Berkat Bebek, Ibu-ibu di Lamongan Raih Penghargaan

Ibu-ibu peternak itik (bebek) yang tergabung dalam Kelompok Sumber Rejeki Desa Tawangrejo, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, meraih dua pengharggan nasional pada 14 Desember lalu.

Mereka meraih penghargaan Adikarya Pangan Nusantara dan Ketahanan Pangan tahun 2012 kategori Pelaku Pembangunan Ketahanan Pangan dari Presiden RI.

Mereka menjadi pemenang pertama Kelompok Peternak Itik dalam Lomba Kelompok Peternak dan Petugas Berprestasi dari Menteri Pertanian. Mereka menerima hadiah uang operasional kelompok Rp 20 juta.

Ketua Kelompok Sumber Rejeki Musyarofah, Selasa (18/12/2012), menuturkan, anggota inti kelompok peternak sebanyak 40 orang dengan anggota binaan sebanyak 120 orang ibu-ibu.

Dari 856 keluarga di desanya, 839 keluarga diantaranya beternak itik (bebek). Setiap 100 ekor bebek bisa memberikan penghasilan hingga Rp 1,3 juta per bulan. Bibit calon indukan bisa dijual dengan harga Rp 60.000 per ekor.

Ia menyebutkan, dari 100 ekor mampu menghasilkan 70-80 butir telur per hari. Bibit anakan atau DOD (day old duck) hasil budi daya sendiri juga dijual.

Bibit betina berusia dua hari dijual Rp 6.000 per ekor, bibit pejantan Rp 4.000 per ekor. Populasi bebek di Tawangrejo juga terus bertambah.

Pada 2009, sebanyak 17.425 ekor, lalu pada 2010 menjadi 24.570 ekor dan pada tahun 2011 mencapai 33.294 ekor. Pada 2012, berhasil diproduksi telur sebanyak 138.861 kilogram, daging sebanyak 16.791 kg dan bibit itik 17.700 ekor.

Mereka juga memproduksi 20.762 butir telur asin dan 3.500 kg abon bebek. "Bebek kini menjadi sumber penghasilan utama kami," kata Musyarofah.
Sumber: Kompas.com

Itik Muda Jadi Petelur, Tua Pedaging

Kebutuhan karkas itik lokal semakin meningkat seiring dengan berjamurnya pelaku usaha kuliner berbahan baku daging itik di berbagai kota seperti Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Peluang inilah yang menjadi alasan Ulung Irianto bersama kelompoknya membuka peternakan itik di daerah Bogor Jawa Barat.

Berbekal populasi sekitar 600 ekor itik, ia menggarap penjualan telur mentah dan usaha hilir berupa telur asin. Telur mentah dijual dipasaran sekitar Rp 1.600 – 1.700 per butir. Sedangkan telur asin Rp 2.500 per butir. “Dengan mengolah sendiri produksi telur mentah dapat memberikan nilai tambah dan perputaran uangnya cukup lumayan karena harga jualnya lebih tinggi,” ujar Ketua Kelompok Mitra Tohaga ini.

Tidak hanya itu, jika memasuki masa afkir, itik dijualnya sebagai pedaging dengan dibandrol Rp 40 ribu untuk berat hidup 1,5 kg per ekor. Hasilnya digunakan kelompok yang beranggotakan 10 orang ini sebagai tambahan untuk membeli pullet (itik yang siap bertelur di umur 7 bulan) yang harga per ekornya Rp 65.000. “Permintaan itik afkir ini cukup tinggi. Belum lama ini kami menjual 400 ekor itik yang sudah afkir,” jelasnya.

Rontok Bulu Sayap
Sebelum memutuskan itik yang dipelihara sudah memasuki masa afkir atau belum, perlu dipahami ciri–cirinya. Ulung menjelaskan, ciri itik afkir, telurnya tidak banyak dan tidak bertelur setiap hari. Dilihat secara fisik, jika sayap itik direntangkan dan bulu besarnya banyak yang rontok maka bisa diindikasikan masuk masa afkir.

Kalau lebih penasaran lagi, pengecekan itik bisa menggunakan telunjuk yang dimasukkan ke anus. Jika itik itu afkir maka di dalam saluran reproduksinya ketika diperiksa pasti kosong dan tidak ada telur. Pengecekan itik afkir dapat juga dilakukan pada tulang pubis (tulang kelamin) menggunakan jari. Jika 4 buah jari bisa pas ditulang pubis maka sudah masuk afkir dan pertanda itik sudah seringbertelur. Tapi kalau baru pas 3 jari ditulang pubisnya maka itik itu masih bagus bertelurnya.

Pria yang mulai beternak itik sejak 2010 ini mengatakan, itik yang memasuki masa afkir pada umur sekitar 26 bulan memang harus dikeluarkan. Jika tidak akan membebani biaya pakan yang semakin tinggi dibanding produksinya yang semakin menurun. “Jika dalam populasi 100 ekor dan produksi telurnya tidak sampai 50 % maka itik itu layak diafkir atau dijadikan pedaging,” tegasnya.

Sebelum memasuki masa afkir, itik mengalami 2 kali masa produktif bertelur. Sekali masa bertelur sekitar 10 bulan. Sebelum produktif bertelur kembali, selang masa bertelur itu, itik mengalami pergantian bulu dan tidak bertelur selama sekitar 2 bulan.

Itik Cihateup
Dalam beternak, Ulung lebih memilih itik lokal jenis Cihateup. Itik yang berasal dari daerah Tasikmalaya Jawa Barat ini rata–rata produksi telur sampai 60 % dan pada puncak produksi bisa sampai 85 %.

Ulung mengungkapkan, itik Cihateup yang merupakan itik asli Jawa Barat ini, lehernya lebih panjang, berat badannya lebih besar, dan berat telurnya bisa mencapai 70 gramper butir. “Selama masa periode bertelur bisa menghasilkan sekitar 250 butir telur per ekor,” ujarnya.

Kondisi lingkungan yang berbeda antara tempat asal itik Cihateup di daerah Tasikmalaya yang lebih dingin dengan di Bogor yang lebih panas, membuat itik membutuhkan waktu adaptasi hampir 2 bulan. Selama masa adaptasi itu, kondisi kandang dan pakan yang diberikan cukup mempengaruhi kondisi itik.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock edisi November 2012

Legitnya Bebek Panggang Ala Kedai San Bao Long

Konon, kedai yang menyajikan makanan dengan cara dipanggang masih belum banyak di Semarang, Jawa Tengah. Itulah yang membuat James Santosa percaya diri terjun ke bisnis ini dengan mendirikan Kedai San Bao Long.

Umur rumah makan ini memang masih muda, baru lima bulan. James Santoso membangun rumah makan tersebut bersama Dwi Aris Prihartanto, sang kepala koki. Mereka menawarkan menu utama makanan serbapanggang, termasuk bebek peking panggang dan ayam panggang.

Nuansa peranakan Tionghoa langsung terasa ketika memasuki kedai ini. Guci beraneka ukuran dan motif dan lemari uzur berisi barang pecah belah porselen dan benda koleksi antik, semua tersusun apik di berbagai sudut ruangan.

Kedai San Bao Long yang berarti Kedai Semarang memiliki lima ruangan. Terdapat satu ruangan VIP yang terpisah dalam satu ruangan tersendiri yang ditata secara apik sehingga terkesan mewah.

Ya, kedai ini memang terkesan eksklusif lantaran lokasinya yang berada di salah satu kawasan elite di Semarang, yaitu Candi. Di daerah itu masih banyak bercokol bangunan tua bergaya Eropa. Salah satunya bangunan yang disewa James sebagai tempat usaha kedainya di Jalan S. Parman No. 76.

Letak Kedai San Bao Long hanya berjarak 4 kilometer dari Simpang Lima. Anda tinggal mengarahkan kendaraan menyusuri Jalan Pahlawan kemudian Jalan Diponegoro, lantas belok ke arah kanan menuju Jalan S. Parman. Lokasi kedai yang berada di pinggir jalan memudahkan Anda untuk menemukan restoran ini.

Kedai yang mampu menampung 170 orang sekaligus ini buka sejak jam 10 pagi hingga 10 malam. Puncak serbuan pengunjung biasanya saat makan siang dan akhir pekan. Di akhir pekan, pengunjung kedai ini bisa naik dua kali lipat dari biasanya. Pada hari biasa, pengunjung yang datang rata-rata 50 orang, sedangkan di akhir pekan bisa sampai 100 orang.

Menurut James, pengunjung kedainya tak hanya keluarga, tapi juga pegawai kantoran. “Ruangan kedai ini bersekat-sekat dari tembok seperti rumah, terkesan lebih privat sehingga cocok digunakan presentasi,” ujar James.

Dijamin halal

Meski suasana Tionghoa di Kedai San Bao Long sangat kental, James menggaransi semua menu di kedainya 100% halal. Jadi, bagi Anda yang muslim, tak perlu khawatir makan di rumah makan tersebut.
Setelah duduk manis, Anda tinggal memesan menu yang tersedia. Bebek peking panggang dan ayam panggang tentu menjadi pilihan teratas.

Harga bebek peking panggang
Rp 218.000 per ekor, sedang ayam panggang Rp 38.000 seekor. Jika satu ekor terlalu banyak, Anda bisa hanya memesan satu porsi bebek peking panggang seharga Rp 33.800 dan ayam panggang Rp 18.800.

Dwi mengklaim seluruh bahan masakan di kedainya bebas bahan pengawet. Olahan bumbu dasar ia buat sendiri dari rempah-rempah. Pengolahannya pun melalui beberapa tahap yang membutuhkan waktu hingga delapan jam.

Tak hanya kekhasan bumbu, rahasia masakan kedai ini juga terletak pada kualitas bebek dan ayam. Untuk bebek, Dwi mendatangkan bebek dari Singapura yang dia ambil dari distributor di Jakarta.

Pengolahan bebek dan ayam pun spesial. Setelah jeroan bebek dan ayam dikeluarkan, seluruh bumbu dasar dimasukkan ke dalam kemudian dijahit. Setelah itu, diinapkan ke dalam lemari pembeku selama satu malam agar bumbu menyerap secara sempurna.

Daging yang lebih tebal dengan olahan bumbu khusus serta cara pengolahan yang spesial menjadi paduan sempurna untuk menciptakan sensasi bebek dan ayam panggang yang legit dan kaya rasa.

Kalau bebek peking panggang dan ayam panggang belum cukup mengganjal perut yang lapar, Anda bisa menjajal gurami San Bao Long yang juga menjadi menu andalan kedai ini. Makanan itu diolah dengan bumbu racikan sendiri yang kental beraroma rempah, seperti asem jawa dan daun serupa kemangi yang disebut grapow. “Saya datangkan bibit grapow dari Thailand kemudian ditanam sendiri di kebun,” kata Dwi.

Sensasi segar dari taburan irisan mangga di atas gurami langsung menyeruak ketika cuilan pertama daging ikan sampai di lidah. Dengan paduan bumbu rempah yang pas, niscaya semakin membuat lidah Anda tak berhenti bergoyang. Harga gurami San Bao Long Rp 65.800 per ekor.

Sebagai variasi menu, Anda bisa memesan toemis baby boencis belacan. Rasanya gurih dan keempukan buncis membuat Anda tidak akan rugi menjatuhkan pilihan pada menu sayur ini. Harga per porsinya Rp 23.800.

Ice triple San Bao Long, minuman tiga warna paduan melon, stroberi, dan jeruk menjadi pasangan serasi menyantap aneka menu panggang di kedai ini. Es krim goreng coklat atau stroberi bisa menjadi hidangan penutup yang sempurna.

Kedai San Bao Long
Jl. S. Parman 76
Semarang, Jawa Tengah
Telp. 024-70616888, 91193888
(Sumber : www.http://lifestyle.kontan.co.id)

Mengolah Telur Itik Menjadi Telur Asin

Pada dasarnya proses pembuatan telur asin ini ada beberapa cara. Namun kebanyakan orang lebih memilih dengan cara direndam atau di balut dalam adonan garam dicampur dengan serbuk bata merah, tanah liat, atau abu gosok. Selain itu juga ada yang merendamnya dengan cairan teh bercampur dengan adonan garam. Dalam hal ini kesemua cara tersebut bertujuan sama yaitu membuat telur itik menjadi telur yang berasa asin. Tetapi ada juga yang mencoba membuat telur asin dengan ditambahkan rasa jahe, rasa jeruk, bahkan rasa cabai kedalam larutan garamnya, sehingga rasa telur tersebut tidak hanya asin, melainkan berpadu dengan rasa lain yang telah ditambahkan kedalam adonan garam tersebut.

A. Pemilihan Telur
Untuk mengetahui secara pasti kondisi telur yang akan diasinkan, maka perlu dilakukan pemeriksaan sekaligus pemilihan (sortasi). Namun, harus dipastikan terlebih dahulu bahwa telur-telur yang akan diperiksa tersebut merupakan telur yang belum pernah dierami sama sekali, sehingga kemungkinan adanya janin didalamnya dapat dihindari. Disamping itu, harus dihindari juga penggunaan telur yang telah mengalami keretakan atau pecah kulit, karena selama dalam perendaman putih telurnya akan menerobos keluar dan membuat larutan perendamannya berbau busuk.

Pemeriksaan dilakukan dengan memasuukan telur-telur tersebut kedalam suatu wadah atau bak plastik yang telah diisi dengan air, kemudian mengamati posisi telur telur etrsebut didalam air. Telur yang melayang. harus segera dipisahkan, sedangkan telur yang tengelam atau yang setengah melayang dibiarkan terendam beberapa saat sehingga kotorannya mudah dibersihkan. Telur-telur yang baik tersebut, kemudian dicuci dengan sabun dan dibilas dengan air hingga benar-benar bersih, serta ditiriskan.

Pemeriksaan telur bisa juga dilakukan seperti langkah-langkah berikut :
  • Kelompokkan telur berdasarkan tingkat kebersihannya. kemudian bersihkan mulai dari kelompok kotor kemudian kelompok yang sangat kotor.
  • Telur yang kurang kotor dapat dibersihkan dengan kain/busa halus yang kering atau ampelas nomor 0. Telur yang g kotor dan sangat kotor ditempatkan diwadah terpisah dan dibersihkan dengan cara merendamnya dalam air detergen hangat selama 2 menit untuk melepaskan kotoran yang sudah mengering.
  • Teropong telur yang sudah kering. Perhatikan keutuhan kerabang, keadaan isi telur dan rongga udaranya. Pilihlah telur yang kerabangnya utuh/tidak retak dan isi telur terlihat bersih serta memiliki rongga udara lebih kecil.


B. Membuat Adonan dan Larutan
Sebelum memulai proses pembuatan telur asin, kita buat adonan garam atau larutan garam terlebih dulu untuk bahan pemeraman atau perendaman telur. Kalau kita baru pertama kali membuat telur asin, maka kita harus lebih memperhatikan takaran media atau garam yang akan kita larutkan, agar rasa asin pada telur tidak kurang atau berlebihan. Karena proses pembuatan telur asin ini bisa dilakukan dengan beberapa macam cara. maka kita akan bahas satu persatu cara membuat adonan atau larutan ini.
  1. Membuat Larutan Garam.Proses pembutan larutan garam jebuh ini berfungsi sebagai larutan perendam telur. Proses ini harus didahulukan karena membutuhkan waktu lama untuk mendinginkannya kembali. Adapun proses pembuatannya diawali dengan memanaskan air hingga suhu tertentu (tidak perlu sampai mendidih) yang sekiranya cukup dapat membantu proses pelarutan garam dan saltpeter. Kemudian masukkan garam dan saltpeter, dan aduk hingga larut seleuruhnya. Selanjutnya angkat larutan garam jenuh tersebut dari perapian, dan diamkan beberapa saat hingga menjadi dingin kembali.
  2. Membuat Adonan Garam. Karena media adonan yang akan dibuat ada 3 jenis, maka kita tentukan takarannya untuk masing-masing media.
  • Adonan 1 dengan media tanah liat. Takarannya untuk telur ayam atau itik 30 butir, tanah liat 20 genggam, sekam padi 0,5 kg, gara 1 kg, air bersih secukupnya.
  • Adonan 2 dengan media abu gosok atau abu dapur. Untuk telur ayam atau itik sejunlah 30 butir, takarannya abu gosok 60 genggam, garam 1 kg, air bersih secukupnya.
  • Adonan 3 dengan media serbuk bata merah. Dengan telur ayam atau itik yang berjumlah 30 butir, kita gunakan serbuk bata merah sebanyak 60 genggam, garam 1 kg, salpeter atau sendawa 50 gram, air bersih secukupnya dan sabun cuci secukupnya.
Cara membuatnya adalah sebagai berikut.
  • Salah satu bahan adonan (tanah liat, abu, atau serbuk batu merah), dicampur dengan garam dan salpeter sesuai takaran yang telah ditentukan.
  • Aduk adonan tersebut hingga tercampur merata.
  • Kemudian tambahkan air sedikit demi seedikit sambil diaduk menjadi adonan yang kental agar dapat melekat pada kulit telur.
Untuk mendapatkan tingkat kekentalan yang tepat, adonan dapat dicoba untuk ditempelkan pada kulit telur. Apabila adonan tersebut dapat melekat dengan baik dan mudah, bararti tingkat kekentalannya telah tepat. Dengan cara pemeraman ini, sebagian sebagian kecil (5%-10%) dari garam akan terserap kedalam telur. Oleh karena itu, bila adonan pembalut akan dipergunakan lagi, maka perlu ditambahkan garam pada adonan tersebut sebanyak 5%-10% dari total berat garam semua.

Dalam pembuatan setiap adonan, kadar air yang dibutuhkan disesuaikan dengan tingkat kekeringan media. Makin tinggi tingkat kekeringannya, maka makin banyak pula air yang diperlukan. Kebutuhan air dinyatakan cukup apabila adonan sudah dapat menempel pada kulit telur. Adonan yang mendapat air dalam jumlah yang kurang ataupun berlebihan, akan mengakibatkan adonan tidak dapat menempel pada kulit telur.

C. Proses Membuat Telur Asin
Untuk membuat telur asin, kita harus tahu cara-caranya secara rinci. Setidaknya secara garis besar kita mengetahui urutan pembuatan telur asin ini. Adapun beberapa cara membuat telur asin yang biasa digunakan oleh kebanyakan orang adalah sebagai berikut.
  1. Perendaman dengan larutan garam.Perendaman telur dilakukan selama 7-10 hari dalam larutan garam yang sudah didinginkan, agar menghasilkan telur asin yang rasa asinnya cukup enak untuk dinikmati. Sebelum telur-telur dimasukkan kedalam wadah perendaman, terlebih dahulu letakkan wadah tersebut ditempat yang aman dan rata, untuk menghindari retak atau pecahnya telur pada saat proses perendaman.
  2. Pemeraman dengan adonan garam. Caranya adalah dengan membungkus telur menggunakan adonan garam. Usahakan agar tiap sisi memiliki tingkat ketebalan yang sama, agar rasa asin yang meresap kedalam telur merata. Kemudian taruh dalam wadah dan peramkan selama 7-10 hari. Setelah pemeraman dianggap cukup maka adonan pembungkus harus segera dilepas dari telur tersebut, sehingga rasa asin pada telur tidak berlebihan. Meresapnya larutan garam kedalam telur memperngaruhi kualitas produk telur asin tersebut.
  3. Perendaman dengan adonan garam. Cara perendaman dengan adonan ini lebih mudah dibadningkan dengan cara pemeraman. Kita tinggal menyediakan wadah, lalu tuangkan sedikit adonan kedalam wadah tersebut sebagai lapisan bawah dan ratakan. Kemudian letakkan telur-telur yang sudah bersih diatas lapisan adonan, dengan memberikan jarak antara telur. Setelah itu timbunlah telur-telur tersebut dengan adonan yang masih tersisa sampai rata menutupi semua telur. Biarkan telur terendam adonan garam selama 7-10 hari. Dalam perendaman ini adonan yang dibuat haruslah lebih banyak daripada untuk pemeraman, karena telur harus tertutup rapat dengan adonan.

D. Pemanenan.
Setelah dirasa perendaman atau pemeraman cukup waktunya (+/- 7-10 hari ). segera bongkar adonan pembalut pada telur. Agar tidak merusak telur pada saat pengbongkaran adonan pembalut, sebaiknya tambahkan sedikit air hingga adonan yang kering menjadi sedikit basah dan gembur. Dengan demikian, adonan dapat dibongkar dengan lebih mudah dan aman. Setelah itu, pisahkan telur yang kulitnya retak atau memperlihatkan tanda-tanda kebusukan. Simpan telur yang baik ditempat yang dingin atau bisa langsung direbus. Jika telur hendak dipasarkan, biasanya sisa-sisa adonan yang menempel tidak di bersihkan semua untuk membedakan dengan telur tawar yang masih mentah.

E. Perebusan
Bila telur asin hendak dipasarkan dalam keadaan matang, maka perebusan dapat langsung dilakukan. Cuci dahulu telur asin yang hendak direbus hingga bersih. Untuk mncegah retak atau pecahnya telur dalam proses perebusan ini, sebaiknya dilakukan cara perebusan seperti berikut ini.
  • Masukkan telur dalam panci perebus yang telah diisi dengan air secukupnya.
  • Panaskan dengan api kecil, usahakan agar air perebus menjadi panas namun tidak mendidih (+/- 30 menit).
  • Selanjutnya, api dapat dibesarkan hingga air mendidih.
Hal ini dilakukan agar putih telur menjadi matang atau mengental terlebih dahulu sebelum mematangkan semua isi telurnya. Sehingga benturan-benturan yang terjadi selama perebusan, tidak akan menyebabkan retak atau pecahnya telur-telur asin tersebut.Untuk telur asin matang dari hasil perendaman dengan larutan garam jenuh, biasanya memiliki putih telur yang berlubang-lubang (keropos). Telur asin yang dihasilkan baik dari cara perendaman dengan larutan jenuh, melalui pemeraman, atau perendaman dengan adonan media garam, memiliki hasil yang berbeda-beda baik rasa maupun warnanya. Demikian juga dengan jenis telur dan juga tebal atau tipisnya kulit telur yang mempengaruhi daya serap telur terhadap laritan garam sehingga memberikan hasil yang berbeda pula.

F. Tips Khusus Membuat Telur Asin.
Dalam telur asin terdapat kandungan gizi seperti protein, karbohidrat dan mineral beberapa kali lebih besar dibanding telur ituk tawar. Ciri Telur Asin Rebus Yang Baik adalah memiliki kuning telur berwarna kuning cerah dan berminyak. Dan posisi kuning telur berada ditengah-tengah, bukan dipinggir juga tidak banyak terdapat rongga. Simak baik-baik tips untuk proses membuat telur asin.
  1. Direndam dalam larutan teh.Setelah jadi telur asin mentah biasanya langsung dicuci dan direbus hingga matang. Namun ada juga sebagian orang yang merendam telur pada larutan teh terlebih dahulu sebelum telur asin mentah tersebut direbus. Bahkan kalau mungkin perendaman dilakukan selama 4-8 hari. Biasanya telur asin yang sudah matang dapat bertahan selama 2-3 minggu. Namun jika hal ini dilakukan keawetan telur asin dapat mencapai hingga 6 minggu.Penggunakan ekstrak daun teh ini bertujuan agar zat tanin yang terkandung dalam daun teh dapat menutupi pori-pori telur serta memberikan warna coklat muda yang menarik. Juga aroma telur asin yang dihasilkan akan lebih disukai konsumen.
  2. Telur Asin dengan Berbagai Aroma.Dalam khalayak umum sudah pernah ada yang bereksperimen membuat telur asin dengan membubuhi berbagai macam aroma dan rasa, seperti telur asin rasa jahe, cabe, juga jeruk.Penelitian yang dilakukan adalah memberikan campuran ekstrak jahe, cabe, atau jeruk kedalam larutan garam jenuh untuk merendam telur itik. Cara membuat ekstrak jahe tersebut adalah dengan mengupas bersih jahe, kemudian diblender dengan air secukupnya, lalu disaring dan jadikan ekstrak jahe. Hal yang sama dapat dilakukan untuk membuat ekstrak rasa lainnya. Kemudian ekstrak inilah yang akan dicampurkan kedalam larutan garam jenuh yang sudah dingin, lalu diaduk rata. Kemudian rendam telur itik kedalam larutan tersebut selama 7-10 hari. Langkah selanjutnya sama seperti pada pembuatan telur asin biasa. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa penyampuran ekstrak rasa kedalam larutan garam jenuh untuk merendam telur hanya akan mempengaruhi rasa asin dari telur tersebut, namun tidak mempengaruhi warna baik putih maupun kuning telurnya.Jadi bila kita menambahkan ekstrak jahe maka rasa asin telur akan bercampur dengan rasa jahe begitu pula untuk ekstrak rasa yang lain. Sehingga kita bisa membuat sendiri telur asin rasa jahe, telur asin rasa pedas, dan telur asin rasa jeruk. 
(Sumber: www.indoforum.org)

Olahan Bebek Ala Minang

Daging itik/bebek termasuk bahan pangan hewani yang lezat, dan karena itu digemari banyak orang. Lihat saja, warung-warung tenda yang menyajikan menu bebek goreng atau bebek bakar, nyaris selalu ramai diserbu pengunjung. ”Dagingnya memang agak alot, tapi gurih,” komentar seorang penggemar bebek goreng, yang biasa menyantap makanan kegemarannya di salah satu warung tenda di Jalan Margonda, Depok.

Kalau selama inipun Anda termasuk penggemar bebek goreng, tak ada salahnya Anda mencicipi olahan bebek yang lain. Tahukah Anda, Ranah Minang juga punya olahan bebek yang lezat lho. Jangan khawatir, Anda tak perlu jauh-jauh terbang ke Sumatera Barat untuk menikmatinya. Anda yang kebetulan tinggal di Jakarta dan sekitarnya, bisa mencicipinya di sejumlah restoran atau rumah makan Padang yang tersebar di Jakarta. Salah satunya, restoran Canaro di Jl Panglima Polim IX Jakarta Selatan.

Ada dua olahan dari bebek yang menjadi unggulan restoran ini yaitu gulai bebek cabai hijau dan rendang bebek. ”Gulai bebek cabai hijau memang favorit pengunjung kami. Sampai-sampai, orang dari Depok kalau mau cari gulai bebek cabai hijau, ya kemari,” kata Ridwan, juru masak restoran ini.

Orang Minang, mengenal gulai bebek dan rendang bebek sebagai masakan khas Bukittinggi. Tak heran, Ridwan yang memang asli Bukittinggi, sangat terampil mengolah masakan ini. ”Di sana (Bukittinggi), gulai bebek cabai hijau atau rendang bebek selalu hadir pada saat-saat istimewa seperti acara pernikahan, sunatan, pemilihan datuk, dan acara-acara lainnya,” cerita Ridwan. Walau begitu, bukan berarti ketika tak ada perayaan, masyarakat Bukitinggi tak pernah mengolah masakan ini. ”Kapan saja, orang bisa membuat masakan ini.”

Dibanding daging ayam, daging bebek memang relatif lebih alot. Begitu pun aromanya, konon lebih amis. Namun dengan teknik pengolahan yang tepat, daging bebek pun bisa tampil sebagai sajian yang empuk dengan cita rasa yang menggoda.

Untuk mendapatkan olahan bebek yang prima seperti itu, memang perlu sedikit usaha. Upaya itu dimulai dari pemilihan bebek. Sebaiknya pilih bebek yang tidak terlalu tua, juga tidak terlalu muda. ”Bebek yang terlalu tua dagingnya sangat alot, sementara yang terlalu muda, dagingnya sedikit,” kata Ridwan. Upaya berikutnya adalah membersihkan bebek. Ridwan biasa mendapatkan bebek yang sudah dibuang bulunya dari pemasok. Bebek ini tidak langsung dipoong-potong lalu dicuci. Ridwan, sang juru masak di restoran Canaro, biasa membakar terlebih dahulu bebek itu di atas bara api sampai berminyak. ”Sembari dibakar, sambil kita membersihkan bulu-bulu yang masih tertinggal. Membersihkannya pakai daun pisang. Selain bersih, juga supaya aromanya sedap,” kata lajang berusia 34 tahun ini.

Setelah tak ada lagi sisa bulu yang tertinggal, barulah bebek dipotong-potong sesuai selera (biasanya satu ekor bebek dipotong-potong menjadi 5-6 bagian), dilumuri dengan cuka atau jeruk nipis, lalu cuci sampai bersih. Bebek pun siap diolah (resep lihat dalam boks).

Untuk membuat gulai bebek cabai hijau, digunakan aneka bumbu seperti bawang merah, bawang putih, cabai hijau, jahe, kunyit, yang ditumbuk lumayan halus. Mungkin, ada di antara kita, dengan alasan kepraktisan, lebih suka membuat bumbu halus dengan cara diblender. Namun, jika Anda hendak mencoba membuat gulai bebek khas Bukittinggi ini, sebaiknya tidak menghaluskan bumbu dengan piranti elektronik itu. Mengapa?

Menurut Ridwan, kalau diblender, bumbunya terlalu hancur sehingga aroma khas dari cabai dan aneka rempah-rempah itu malah kurang terasa. ”Karena itu, saya senang yang alami, pakai tumbukan dari batu. Cara seperti ini pula yang diajarkan para sesepuh saya di Bukittinggi,” kata pria yang pernah menjadi juru masak di sejumlah restoran Padang ini. Lalu, seberapa halus bumbu itu ditumbuk? ”Paling tidak sampai biji cabainya tidak kelihatan lagi,” kata Ridwan mengingatkan.

Mengolah bebek cabai hijau, sambung Ridwan, butuh waktu lumayan lama, sekitar dua jam. Anda tak sabar memasak selama itu? Ingat lho, sebaiknya Anda tak mengambil ‘jalan pintas’ dengan menggunakan panci tekan (pressure cooker). Ridwan bilang, memasak bebek dengan panci tekan akan membuat daging bebek terlalu lunak (malah, bisa-bisa hancur). Cita rasanya juga kurang sedap.

Satu hal lagi yang diingatkan oleh Ridwan adalah, ketika mengolah bebek selama sekitar dua jam itu, gunakanlah api kecil. Dalam dunia kuliner, inilah yang disebut memasak dengan teknik simmering. Ridwan mengaku, selalu menerapkan teknik ini setiap kali membuat gulai, rendang, juga membuat bebek cabai hijau ini. ”Dengan api kecil, bumbu lebih meresap, daging bebeknya pun menjadi empuk. Kalau dimasak dengan api besar, bumbunya saja yang matang, tapi dagingnya nggak empuk.”

Nah, dengan cara memasak seperti ini, gulai bebek cabai hijau olahan Ridwan bisa tahan satu minggu tanpa masuk kulkas. Rasanya? Tentu saja lezat. Bagaimana pula dengan rendang bebek? Sajian inipun termasuk salah satu sajian favorit di restoran milik Drs Arslan Soekoen ini. Cara membuatnya, tak beda dengan ketika kita membuat rendang daging. Hanya saja, mengolah rendang bebek, cuma butuh waktu sekitar dua jam, sementara rendang daging sapi sekitar empat jam.

Hal lain yang membedakan rendang bebek dengan rendang daging adalah dalam penggunaan santan. Pada rendang daging, digunakan santan kental berikut santan encernya. Namun, pada rendang bebek, yang digunakan adalah kepala santan. Bagaimana cara mendapatkan kepala santan ini? ”Santan yng baru diperas, didiamkan sekitar 15 menit. Lalu bagian putih yang terdapat di bagian paling atas santan itu, kita ambil untuk memasak. Sedangkan cairan encer dan bening yang ada di bawahnya tidak kita gunakan,” terang Ridwan. Anda tertarik membuat rendang bebek? Jika begitu, simak resepnya dalam boks. Selamat mencoba!
(Dari berbagai sumber-wd13102011)