Ducks are classified into four groups according to their weight. The heavy weight class includes the ducks that are predominately breed for meat purposes, while the medium and light weight classes are generally considered layers, pets and/or exhibition waterfowl. The bantam weight class consists of the smallest ducks which must be housed in an enclosure that is covered due to their ability to fly. These miniatures are used mostly for show.
Muscovy:
These South American, quack-less ducks are world renown for their gourmet quality meat. They develop caruncles (bright red fleshy protuberances on their head and neck) with age and love to spend hours hunting for insects (especially flies). They are a hardy duck with clawed feet that they use to protect themselves. The flightless drakes (male ducks) are almost twice the size of the hens who are excellent mothers and very good egg layers.Weight - 6 to 12 pounds: Eggs - large and white with a green cast on the thick shell.
Pekin:
These large, classical white ducks are the breed that was used by Disney studio as a model for Donald Duck. They are very friendly and when given proper attention will follow their owners with a humorous straight legged waddle, quacking all the way. The drakes have bright orange bills and feet with a soft, deep quack. The noisier hens are fair layers of very large eggs but are generally not broody (sit on eggs). Weight - 8 to 10 pounds: Eggs - very large and white in color.
Rouens:
These large, French breed ducks are often mistakenly called "Mallards" because of their similar coloration. Drakes have an exquisite plumage that they sport from September to June. The short period in between is called the "eclipse" were males return to a lacey brown feather pattern that resembles the females. They are not good flies, unlike their cousins the mallard. Due to their heavy weight, they can barely clear the ground.Weight - 8 to 10 pounds: Eggs - large and white to green in color.
Cayuga:
These stunning, shinny black ducks originated in New York from a wild pair that were caught on a miller's pond. They glisten dark emerald green in the sunlight and even the leather on their feet and bill are black. These non-flyers are considered the hardiest of all the domestic ducks and are on the rare and endangered poultry breed list. They are active forages with a calm and quiet personality that can be easily tamed. Weight - 6 to 8 pounds: Eggs - medium and white to bluish in color.
Crested:
These unusual top-knotted ducks actually have a fleshy protrusion of skin on their head that is covered with soft, curled feathers. Breeding these ducks can be rewarding as well as heart-breaking. Crested drakes breed to crested hens can produce an assortment of ducklings, some with crests so large that they can not hatch, some with perfect crests in a variety of sizes and some with no crest at all. Weight - 5 to 7 pounds: Eggs - medium and white to green in color.
Swedish:
These beautiful, white bibbed ducks were originally raised in Pomerania (an area between Germany and Poland), which was part of the Kingdom of Sweden. They were a favorite among farmers that believed "blue" colored waterfowl were hardy, had superior meat and were difficult for predators to see. These uncommon ducks have calm temperaments and therefore make excellent pets that are good foragers. Weight - 5 1/2 to 8 pounds: Eggs - medium and white to green in color.
Runner:
These extraordinary tall, upright ducks came from the East Indies over 200 years ago and run, rather than waddle. They are sometimes referred to as "Penguin Ducks". They are often used in dog herding trials since they are incapable of flight and tend to bunch together in tight -knit groups. These bazaar looking waterfowl come in eight recognized colors and are remarkably fast growing ducks that are also good layers. Weight - 3 1/2 to 4 1/2 pounds: Eggs - medium and white to deep green in color.
(www.darsonoww.blogspot.com)
Tampilkan postingan dengan label Fakta Itik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fakta Itik. Tampilkan semua postingan
Catatan Sejarah Itik di Indonesia
Itik sudah beredar dalam sejarah perdagangan dan pertanian di Indonesia sejak zaman kerajaan. Masuknya itik impor ke tanah air terjadi pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Salah satu bukti itik berkembang pada zaman kerajaan adalah sebagaimana tertulis dalam prasasti Sangsang pada 907 Masehi. Prasasti yang ditemukan di Jawa Timur itu menyebutkan tentang beberapa jumlah batasan komoditi pertanian bebas pajak yang diperdagangkan pada masa itu. Tertulis : "...yang pangulang kbo ya ruang puluh kboannya sapi patangpuluh wdus wuangpuluh andah sawantayan...", yang artinya "..jika menjual kerbau, 20 kerbaunya, sapi 40, kambing 80 dan itik satu wantayan...", Wantayan merujuk pada satuan kandang atau sangkar.
Budaya menggembalakan itik juga tercatat pada masa pemerintahan raja Anak Wungsu 1049-1077 yang berkuasa di Kerajaan Bali. Prasasti Pucangan -salah satu prasasti yang dibuat Anak Wungsu- juga menyebutkan soal itik. Dalam bagian prasasti PUcangan yang ada di Kabupaten Bangil, tertulis raja mengabulkan permohonan penduduk dengan diperbolehkan memelihara anjing dan itik serta melakukan perniagaan ke desa lain. Saat itu beternak sudah menjadi kebiasaaan masyarakat Bali.
Itik juga disinggung dalam pesan Raja Shri Kertanegara yang tercantum pada prasasti Prameshvara Pura yang ditemukan di Desa Sapikerep Kabupaten Probolinggo Jawa Timur pada Tahun 2002. Selain menyebutkan soal pembebasan pajak, prasasti yang dibuat pada 1275 itu mengingatkan masyarakat Tengger Bromo untuk melakukan pujian dengan cara memberikan sesajen. Sesajen yang diberikan berupa ayam, itik, telur dan uang.
Usaha pemeliharaan itik kemudian terus berkembang hingga masuk ke zaman Hindia Belanda, saat itu itik Khaki Campbell dan Peking masuk. Namun hingga kini, walaupun beberapa jenis itik impor masuk ke Indonesia, itik lokal juga senantiasa terus berkembang dan etap menjadi komoditas utama yang dibudidayakan oleh sebagian besar peternak di tanah air.
Itik yang dipelihara mayoritas adalah itik petelur. Kini, untuk memenuhi kebutuhan itik pedaging, itik betina yang sudah tidak produktif (afkir) dan itik jantan muda banyak diperdagangkan sebagai itik pedaging. Itik pedaging marak diperdagangkan sebagai alternatif menu daging ayam dan atau sapi. Sebelumnya itik pedaging identik dengan itik peking, target pasarnya adalah konsumen menengah ke atas. Dengan diversivikasi sumber itik pedaging dari betina afkir dan jantan muda, maka pangsa pasarnya semakin meluas hingga restoran kaki lima.
(Sumber : Dari berbagai sumber)
Budaya menggembalakan itik juga tercatat pada masa pemerintahan raja Anak Wungsu 1049-1077 yang berkuasa di Kerajaan Bali. Prasasti Pucangan -salah satu prasasti yang dibuat Anak Wungsu- juga menyebutkan soal itik. Dalam bagian prasasti PUcangan yang ada di Kabupaten Bangil, tertulis raja mengabulkan permohonan penduduk dengan diperbolehkan memelihara anjing dan itik serta melakukan perniagaan ke desa lain. Saat itu beternak sudah menjadi kebiasaaan masyarakat Bali.
Itik juga disinggung dalam pesan Raja Shri Kertanegara yang tercantum pada prasasti Prameshvara Pura yang ditemukan di Desa Sapikerep Kabupaten Probolinggo Jawa Timur pada Tahun 2002. Selain menyebutkan soal pembebasan pajak, prasasti yang dibuat pada 1275 itu mengingatkan masyarakat Tengger Bromo untuk melakukan pujian dengan cara memberikan sesajen. Sesajen yang diberikan berupa ayam, itik, telur dan uang.
Usaha pemeliharaan itik kemudian terus berkembang hingga masuk ke zaman Hindia Belanda, saat itu itik Khaki Campbell dan Peking masuk. Namun hingga kini, walaupun beberapa jenis itik impor masuk ke Indonesia, itik lokal juga senantiasa terus berkembang dan etap menjadi komoditas utama yang dibudidayakan oleh sebagian besar peternak di tanah air.
Itik yang dipelihara mayoritas adalah itik petelur. Kini, untuk memenuhi kebutuhan itik pedaging, itik betina yang sudah tidak produktif (afkir) dan itik jantan muda banyak diperdagangkan sebagai itik pedaging. Itik pedaging marak diperdagangkan sebagai alternatif menu daging ayam dan atau sapi. Sebelumnya itik pedaging identik dengan itik peking, target pasarnya adalah konsumen menengah ke atas. Dengan diversivikasi sumber itik pedaging dari betina afkir dan jantan muda, maka pangsa pasarnya semakin meluas hingga restoran kaki lima.
(Sumber : Dari berbagai sumber)
Fakta Unik dari Itik
- Itik tidur dengan setengah otak terjaga. Mereka kerap tidur dengan satu mata terbuka bila posisi tidurnya berada di pinggir kelompok. Dengan kelibihan itu wajar bila itik dapat mendeteksi ancaman kurang dari satu detik.
- Itik dapat hidup lebih dari 20 tahun bila ia memperoleh pakan dan perawatan yang baik. Itik tertua di dunia mencapai umur 27 tahun.
- Cangkang telur memiliki tekstur permukaan beragam. Telur burung cormorant-burung air yang dimanfaatkan untuk mengambil ikan di China dan Jepang-memiliki permukaan kasar dan kesat seperti berkapur. Telur itik umumnya sedikit berminyak dan anti air.
- Jika diluar negeri itik disebut DUCK, di Indonesia itik dipanggil BEBEK (bahasa jawa). terlepas dari itu, itik telah menjadi isnpirasi munculnya kreativitas manusia dalam berbagai bidang. misalnya dalam film animasi, video game, maskot, merk minuman, hingga tradisi adat/budaya.
- Di Indonesia, tepatnya di Payakumbuh Sumatera Barat, terdapat lomba adu cepat terbang itik layaknya merpati balap. Itik yang mengikuti lomba PACU ITIAK itu berumur 4-6 bulan, serta dilatih dan diberi makan khusus agar bisa terbang cepat. Itik yang bisa terbang memiliki ciri sayap elang dibagian pinggir sayapnya. lomba biasanya diadakan saat hari raya Idul Adha, hari Kemerdekaan dan hari khusus lainnya.
- Itik di Bali banyak digunakan sebagai salah satu bahan dalam upacara keagamaan seperti Upacara Butha Yajna, Upacara Mesangih dan Upacara Panca Bali Krama. Penggunaan itik dalam upacara memiliki makna simbolis sebagai visualisasi ajaran Hindu. Itik merupakan hewan bijaksana seperti tercetus dalam Sarasamuscaya-salah satu kitab Hindu. Penggunaanya dalam upacara sebagai simbol untuk mengembangkan kemampuan wiweka jnyana-kemampuan membedakan hal baik dan buruk. Karena biar pun itik makan di tempat yang kotor dan berlumpur, ia dapat memisahkan makanan yang ditelan dengan kotoran yang tidak seharusnya dimakan.
- Itiak Pulang Patang merupakan salah satu motif kain tradisional Minangkabau Sumatera Barat. Motif yang kerap diwujudkan dalam tenunan itu memiliki folosofi : kebersamaan dan kekompakan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau yang selalu bersatu dan keselarasan kehidupan masyarakat dengan alam. Motif dibuat seperti huruf S yang berjajar seakan itik berbaris atau berjalan bersama-sama.
- Di Perancis terdapat makanan kontroversial yang disebut FOIE GRAS, yang berarti hati yang digemukan. Kuliner Perancis tersebut menjadi kontroversi karea dihasilkan dari itik yang dipaksa makan untuk digemukan hatinya. Makanan dipompa lewat sebuah saluran langsung menuju esofagus itik. Alternatif lainnya, memotong itik pada periode musim dingin. Saat musim tersebut, hati itik telah gemuk secara alami. Foie Gras yang dominan diambil dari itik jantan dan disajikan dalam berbagai varian makanan. Makanan tersebut saat ini banyak dikonsumsi masyarakat Eropa, China dan Amerika Serikat.
- Hati dan jantung itik Muscovy yang dicairkan dalam laktosa atau sukrosa dapat dimanfaatkan dalam industri farmasai sebagai bahan pembuatan oscillococcinum sebagai bahan obat perda gejala flu serta demam. obat tersebut banyak diproduksi di Perancis dan digunakan secara luas di China, Amerika Serikat dan Eropa.
(Dari berbagai sumber-Mitra Tohaga Farm)
Langganan:
Postingan (Atom)


