Tampilkan postingan dengan label Teknologi Pakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi Pakan. Tampilkan semua postingan

Tepung Bulu : Nilai Kecernaan Rendah, Perlu Proses Enzimatis

Berdasarkan estimasi beberapa sumber, produksi broiler 2012 mencapai setidaknya 1,5 miliar ekor. Dan dengan asumsi limbah bulu hasil pemotongan sekitar 4 – 5 % bobot hidup dan rata-rata bobot panen 1,6 kg, maka diperkirakan total limbah bulu ayam tahun ini dari broilersaja lebih dari 100 ribu ton.

Menurut ahli nutrisi ternak dari Balai Penelitian Ternak, Prof Budi Tangendjaja, bulu ayam ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber protein pakan karena mengandung protein yang tinggi, hingga 85%. Sayangnya, protein asal bulu yang biasa disebut keratin ini nilai kecernaannya rendah, hanya 10–15%.

Pengolahan
Dalam praktiknya, pengolahan bulu ayam menjadi tepung sudah dilakukan dengan berbagai macam metode. Antara lain melalui perlakuan fisik dengan pengaturan temperatur dan tekanan; secara kimiawi dengan penambahan asam dan basa; secara enzimatis dan biologis dengan mikroorganisme; dan kombinasi ketiga metode tersebut. Proses ini dilakukan untuk meningkatkan kecernaan protein yang rendah.

Dan Budi menuturkan, saat ini pengolahan tepung bulu ayam lebih banyak memanfaatkan asam alkali. “Karena proses reaksi kimia ini bisa menghasilkan nilai cerna sampai 75%,” jelasnya. Proses kimiawi ini memiliki keunggulan biaya yang relatif murah dan lebih cepat, tetapi kelemahannya terletak pada asam amino keratin yang tidak seimbang.

Suaedi Sunanto – Manajer PT DSM Nutritional Products Indonesiamenambahkan penjelasan, dalam proses kimia, asam dan basa kuat bereaksi dengan semua gugus protein, memecah semua gugus protein. Ini berbeda dengan proses enzimatis. Enzim keratinase yang digunakan, bekerja secara spesifik dan tidak bereaksi dengan gugus lain. “Tapi kelemahannya, biaya yang diperlukan lebih mahal karena harus direaksikan pada kondisi tereaksi atau reaktor yang harus terkontrol,” ujarnya.

Suaedi melanjutkan, proses enzimatis akan menghasilkan produk dengan kecernaan protein bagus. Peningkatan kecernaan dari enzimatis tergantung bagus tidaknya reaktor, dengan peningkatan kecernaan biasanya mencapai 50-60%.

Selain itu, enzim umumnya tidak diproduksi massal sehingga menyebabkan harga produk akan semakin mahal. Alhasil, tidak kompetitif dengan bahan baku konvensional, seperti tepung ikan dan bungkil kedelai.

Berbeda dengan pandangan Budi, menurut pengamatan Suaedi, pengolahan tepung bulu ayam masih lebih banyak dilakukan secara fisik. Padahal, cara ini hanya mampu menaikkan nilai kecernaan 5-10% dari kecernaan semula. Dia mengatakan, fokus pengolahannya hanya mengubah bentuk menjadi tepung sehingga mudah untuk dikonsumsi ternak.

Target Pakan
Secara teknis, penambahan tepung bulu dalam pakan maksimal 3%. Suaedi memisalkan, tambahan 3% tepung bulu ayam dengan kadar protein 65% akan memberikan 2% protein tambahan pada pakan utama. Dan dia mengatakan, hal ini sesuai target peternak yang hanya membutuhkan tambahan protein 1-1,5% untuk formulasi pakan.

Dalam penggunaannya, Suaedi menyarankan lebih baik diberikan pada ayam periode pembesaran. Pasalnya di fase ini, sistem fisiologis sudah berkembang sehingga ayam sudah mampu beradaptasi dengan dinamika kondisi, menghadapi kondisi ekstrim.

Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Juni 2012
(Sumber : trobos.com)

Kayambang Sebagai Bahan Pakan Unggas

Kayambang (Silvinia molesta) merupakan tumbuhan air yang hidup mengapung (floating) pada permukaan air yang terdiri atas batang, daun dan akar.Batangnya bercabang tumbuh mendatar dan ditumbuhi bulu panjang hingga mencapai 30 cm. Kayambang dapat tumbuh mulai dari dataran rendah sampai dengan ketinggian 1800 meter di atas permukaan air laut. Di Indonesia penyebaran tumbuhan ini banyak dijumpai di Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan (Soerjani et al. 1978).

Kayambang tumbuh subur di sepanjang sungai, waduk, danau, kolam atau sawah, serta penyebarannya kontinyu melalui aliran sungai atau sistem pengairan/irigasi. Tumbuhan ini biasanya lebih banyak dijumpai dan tumbuh subur di antara tanaman padi, bahkan kehadiran kayambang akan menekan perkembangan tumbuhan air lainnya sepertiduckweed atau azolla, sehingga dapat mengurangi penyebaran tumbuhan tersebut. Pertumbuhannya yang cepat dan kultivasi biomassa yang singkat, tumbuhan ini dapat menghisap oksigen (O2) dalam air kolam, waduk, sepanjang aliran sungai atau sistem pengairan, meskipun di bawah kondisi lingkungan yang kurang baik (Paterson, 1999).

Komposisi Nutrisi
Kandungan
Bahan kering (%)
90,50-93,25
Protein kasar (%)
10,04-17,34
Serat kasar (%)
22,94-29,41
NDF (%)
70,95-75,18
ADF (%)
59,54-59,60
Kalsium (%)
0,77-2,78
Fosfor (%)
0,36-0,79
Natrium (%)
0,001-0.86
Mangan (%)
38,86
Lignin (%)
98,48
Selulosa (%)
7,14
Hemiselulosa (%)
11,35-16,0
Lisina (%)
0,611
Metionina (%)
0,765
Sistin (%)
0,724
Energi metabolis (kkal/kg)
2200
Sumber :  Soerjani et al. 1978 dan Muhsin 2002.

Potensi Kayambang sebagai pakan ternak
Dari beberapa laporan hasil penelitian tentang pemanfaatan kayambang sebagai bahan pakan ternak, disimpulkan bahwa tumbuhan ini mempunyai potensi dan prospek yang baik dalam mendukung penyediaan pakan berbasis bahan pakan lokal. Pemanfaatan bahan pakan lokal yang tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, tetapi dapat meningkatkan performa ternak merupakan alternatif yang dapat dipilih (Satata, 1992), sehingga dapat menekan pengeluaran biaya pakan, yang merupakan komponen terbesar dalam beternak unggas (Rohaeni dan Setioko, 2001).

Penggunaan kayambang sebagai bahan pakan ternak, dikemukakan Situmorang (1994) bahwa pemberian 5% dalam ransum babi lepas sapih, menunjukkan pertambahan bobot badan yang lebih baik dibanding kontrol, bahkan pemberian sampai level 20% dapat menggantikan jagung kuning dan secara signifikan meningkatkan konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan. Pemberian kayambang sebesar 40% ditambah rumput kering lapang ditambah 1% konsentrat pada pakan sapi PO menunjukkan peningkatan pertambahan bobot badan mingguan sebesar 3,28 kg/minggu.
(Sumber : Poultry Indonesia)

Itik jadi Primadona Baru

Saat ini itik sudah mulai bisa menjadi primadona di Pasaman. Masyarakat yang tadinya hanya mengandalkan sumber pendapatan dari kebun karet kini berupaya mencari sumber-sumber pendapatan baru dengan mengembangan budidaya ternak.

Salah satunya mengembangan itik petelur dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong. Inilah yang dilakukan kelompok tani Harapan Baru di Nagari Air Manggis, Padang Sarai Kabupaten Pasaman.Adha, ketua Kelompok Tani Harapan Baru Nagari Air Manggis Pasaman mengatakan bahwa saat ini, budi daya itik petelur yang sedang dirintis oleh kelompoknya saat ini merupakan hasil dari bantuan pemerintah provinsi. Dana ini diserahkan secara bertahap oleh Pemprov Sumbar untuk 2011 kepada rekening kelompok tani yang dipimpinnya.

“Dana ini dicairkan oleh Pemerintah Provinsi Sumbar kepada kelompok tani ini secara 3 tahap, untuk tahap I diberikan pada bulan Oktober 2011 lalu sebesar 40 persen, kemudian untuk tahap selanjutnya yatu tahap II dan III diberikan masing-masingnya pada bulan November dan Desember lalu sebesar 30 persen,” jelasnya.


Tidak cuma itu, lanjut Adha, bantuan dari pemerintah Provinsi Sumbar terhadap kelompok tani ini tidak hanya diperoleh dengan gampang. Pasalnya, sebelum mendapatkan aliran dana bantuan tersebut, kelompok tani yang berjumlah 24 orang ini lebih dahulu mengajukan proposal jenis usaha yang akan dikembangkan oleh kelompok tani itu.

Budi daya itik petelur, dikatakannya, sepenuhnya berada di bawah asuhan dinas peternakan Pasaman. Sebabnya, budi daya itik petelur di Pasaman yang ada. Oleh sebab itu, usaha yang mulai dirintis oleh kelompok tani harapan baru ini merupakan contoh bagi peternak yang akan menjalani usaha dibidang yang sama nantinya.

“Dengan luas lahan 1 hektar milik salah satu anggota kelompok, jumlah itik yang ada saat ini mencapai angka 1.124 ekor itik dengan perbandingan 1.009 betina dan 115 ekor itik jantan, bibitnya sengaja kita beli dari Payakumbuh” jelasnya lagi.

Senada dengan yang dikatakan oleh ketua kelompok tani harapan baru tadi, Irzan, yang merupakan pembina di kelompok tani ini mengatakan bahwa setelah 3 bulan berjalan, saat ini budidaya itik petelur yang dikelola kelompok ini sudah menghasilkan sedikitnya 200 telur perharinya.

“Itik ini kita beli dalam keadaan sudah berumur 3,5 bulan, hal ini sengaja dilakukan karena keterbatasan dana bantuan yang diterima oleh keltan ini,untuk mensiasatinya, itik yang dibudidayakan adalah itik yang sudah beranjak dewasa, dan pemeliharaannyapun tidak memerlukan biaya yang besar,” ucap Irzan yang merupakan kepala bidang di dinas Peternakan Pemkab Pasaman.

Sebenarnya, lanjutnya, terdapat dua pilihan budidaya itik/bebek petelur yang umum dilakukan yaitu sistem gembala (angon) atau dikandangkan (semi intensif). Budidaya itik digembalakan sepintas menguntungkan, karena tidak membutuhkan pakan tambahan.

Namun, sebenarnya produktivitasnya tidak maksimal. Bila produktivitas itik kandang bisa mencapai 80 persen, itik paling-paling hanya 50 persen. Menggembalakan itik juga banyak tantangannya. Petani malas, lantaran bila masuk ke sawah bekas angonan tubuhnya gatal-gatal. Angon itik/bebek tergantung musim. Saat musim panen saja peternak bisa melakukan aktivitasnya, selebihnya tidak.

Berbeda dengan sistem angon, dengan budidaya itik di kandang (semi intensif) produksi bisa sepanjang tahun. Karena produktivitasnya optimal, keuntungan juga menjadi lebih tinggi. Budidaya itik semi intensif (dikandangkan) bisa berhasil.

Apabila sumberdaya manusia, manajemen kandang dan pakannya baik. Selain itu perhatian dan ketelatenan tak dapat diabaikan. Hal ini sangat beralasan karena itik termasuk hewan yang mudah stres. Ganti orang yang memberi pakan, langsung mogok bertelur.

Sistem budidaya itik petelur intensif lebih menekankan pada efisiensi dan efektivitas pengelolaan. Dari mulai pola pembibitan, pola pemberian pakan, pola pembesaran, penangan penyakit, pola perkandangan, kebersihan hingga hasil akhir melalui metode-metode yang teratur.

Dengan sistem intensif peternak dapat memperkirakan atau memperhitungkan besarnya modal dan besarnya keuntungan yang akan diraih. Produktivitas usaha terjamin. Petugas dinas perternakan tak jarang turun ke lapangan memberikan keterampilan mengenai peternakan itik.
(Sumber : www.padangekpress.co.id)

Bahan Pakan Itik

Jika itik diberikan pakan komersial sepanjang hidupnya, biaya pakan akan sangat tinggi. Untuk mensiasatinya, itik dapat diberikan pakan alternatif yang dapat diperoleh peternak di lokasi budidaya. Di Tegal Jawa Tengah, peternak umunya memakai pakan itik komersial pada periode awal pertumbuhan anak itik, sekitar umur 4-6 minggu. Selanjutnya mereka menggunakan pakan alternatif seperti kepala udang, bekatul, serta jagung giling yang dicampur nasi. Peternak lazim juga memakai bekicot yang dihancurkan untuk pengganti konsentrat. Bila perlu tambahkan vitamin dan mineral. Banyaknya pakan disesuaikan dengan kebutuhan. Beberapa pakan alternatif yang dapat diberikan antara lain :

1. Bekatul
Bekatul merupakan dedak hasil dari proses penggilingan padi. Bobotnya sekitar 10% dari total berat padi. Dedak kaya karbohidrat sebagai sumber energi. Penggunaan bekatul hingga 75% dalam ransum itik petelur tidak mengganggu produksi telur asalkan kandungan nutrisi yang lain mencukupi.

2. Singkong
Singkong mudah ditemukan dan harganya murah. Bagian singkong yang dapat digunakan sebagai pakan itik adalah umbi yang yang dibuat tepung. tepung singkong atau gaplek mempunyai kandungan karbohidrat tinggi, bahkan hampir menyamai jagung, meski pun miskin protein. Kandungan proteinnya sekitar 2 %. Pada umbi singkong, sebagian besar sianida terdapat pada kulitnya. Pengupasan kulit umbi, perendaman dan pengeringan dapat menurunkan kadar sianida. Tepung singkong dapat digunakan dalam pakan itik hingga 30%. Pemberian tepung singkong dalam jumlah banyak dapat menyebabkan itik terserang mencret.

3. Bekicot
Bekicot dapat digunakan sebagai sumber protein itik. Bekicot segar mengandung protein kasar sekitar 15%. Kadar protein itu dapat digunakan dengan membuat tepung bekicot. Caranya, bekicot dipisahkan dari kulitnya, dikeringkan lalu digiling. Tepung bekicot yang dibuat dari bekicot mentah mengandung 52% protein, sedangkan tepung yuang dibuat dari bekicot rebus mengandung 32,7% protein. Penggunaan bekicot mentah dapat dicampurkan 15% dalam ransum itik, sedangkan tepung bekicot dapat dicampurkan hingga 20%.

4. Keong Mas
Keong mas kaya protein dan kalsium. Pemberian dalam bentuk segar dapat menyebabkan pengaruh negatif terhadap itik, yaitu menyebabkan penurunan produksi karena di dalam lendir keong terdapat suatu zat antinutrisi yang dapat menghambat pertumbuhan itik. Untuk itu dianjurkan menggunakan keong mas yang telah direbus. Kandungan zat antinutrisi yang ada akan berkurang atau bahkan hilang setelah proses perebusan selama 15-20 menit. Penggunaan keong dalam ransum itik dapat dicampurkan sebanyak 30%.

5. Cangkang Udang
Cangkang kepala dan kulit udang merupakan limbah yang bayak ditemui di daerah pantai, terutama daerah yang mempunyai pabrik kerupuk udang dan penampungan serta pengolahan udang untuk ekspor. Cangkang udang basah mempunyai kandungan 60-65% kadar air dan apabila dikeringkan mengandung 50% protein kasar, 11 % kalsium, 1,95% fosfor. Pemberin cangkang dan kulit udang dalam ransum itik dapat dicampurkan hingga 30%.

6. Ikan Rucah
Ikan rucah yang banyak terdapat dipelelangan ikan dapat digunakan sebagai sumber protein. Pemberian ikan rucah akan melengkapi kebutuhan protein jika diberikan bersama-sama dengan cangkang udang. Ikan rucah dapat digunakan dalam ransum itik dengan campuran sebanyak 40%.

7. Nasi Kering
Di Tegal Jawa Tengah, nasi kering dijadikan opakan tambahan untuk itik. Nasi kering dapat dijadikan sumber  energi dengan penggunaan dalam campuran pakan sebanyak 30%.

8. Pakan Hijauan
Pakan hijauan merupakan salah satu komponen pakan yang memasok kebutuhan serat bagi itik. Wujudnya berupa daun-daunan hijau segar yang diberikan langsung kepada itik setelah dicacah. Pakan hijauan untuk itik antara lain kangkung, bayam, daun eceng gondok, sawi, kubis, dan genjer serta daun pepaya. Selain membantu melancarkan pencernaan itik, pakan hijauan juga memasok kebutuhan vitamin dan mineral. Biasanya 100 ekor itik dewasa diberi pakan hijauan sebanyak 4 Kg perhari. Penggunaan dalam ransum itik dapat dicampurkan sebanyak 5%.

Pada saat musim hujan, itik lebih mudah sakit. Produksi itik petelur bisa trun 30-40%, terutama bila kandang tidak cukup hangat menahan dinginnya cuaca. Sebagai langkah awal, kondisi kandang harus dibuat hangat, di bagian bawah lantai kandang perlu tersedia jerami sebagai alas tidur. Buat penutup di sekeliling kandang agar angin kencang tidak menerpa dan mengganggu istirahat. Langkah selanjutnya, perlu dilakukan perubahan komposisi pakan. Agar tubuh itik menjadi hangat, jumlah karbohidrat perlu ditambah dan mengurangi jenis-jenis bahan pakan yang berasal dari pakan basah seperti ikan rucah. Sedangkan pakan kering berupa loyang perlu ditambah. Bekatul tetap diberikan dalam jumlah sama untuk menjaga pakan itik tidak terlalu basah. Komposisi tersebut dapat diaplikasikan pada itik petelur maupun itik pedaging.
(Sumber : dari berbagai sumber-WD17112011)

Kebutuhan Gizi Itik Petelur dan Pedaging

Itik di Indonesia berperan sebagai penghasil telur dan daging. Lebih dari 19% kebutuhan telur dipenuhi dari telur itik, akan tetapi perannya sebagai penghasil daging masih rendah yaitu 0,94% dari total kebutuhan daging di Indonesia. Pengelolaan dan pemberian pakan sangat penting diperhatikan karena lebih dari 70% biaya produksi ternak itik baik petelur maupun pedaging berasal dari biaya pakan. Walaupun demikian informasi kebutuhan gizi untuk itik petelur dan pedaging masih terbatas. Oleh karena itu, rekomendasi gizi dari luar negeri dapat digunakan sebagai informasi pelengkap. Air merupakan kebutuhan gizi terpenting untuk unggas termasuk itik sehingga jumlah dan mutu air yang disediakan sangat perlu diperhatikan. Di Indonesia tersedia berbagai jenis bahan pakan lokal yang potensial digunakan sebagai pakan itik. Mutu bahan pakan sangat perlu diperhatikan karena itik ternyata sangat sensitif terhadap keracunan aflatoksin. Kandungan aflatoksin dalam pakan itik yang aman harus kurang dari 40 μg/kg pakan.


Kebutuhan Gizi Itik Petelur

Telah banyak dilakukan penelitian tentang kebutuhan protein dan energi pada itik petelur lokal. Dari hasil-hasil penelitian tersebut, SINURAT (2000) menyusun rekomendasi kebutuhan gizi itik petelurpada berbagai umur (Tabel 1). Sangat disayangkanNational Research Council (NRC, 1994) tidak menyediakan data tentang kebutuhan gizi untuk itikpetelur tapi hanya menyediakan informasi untuk itikPekin putih yang tergolong tipe dwiguna. Oleh karenaitu, kebutuhan gizi itik petelur dan terutama itikpedaging untuk Indonesia perlu ditetapkan lebih lanjutmelalui penelitian nutrisi terutama untuk melengkapiinformasi kebutuhan gizi dalam negeri. Rekomendasi yang tersedia saat ini dikelompokkan berdasarkan umuryaitu: pakan starteruntuk itik berumur 0 – 8 minggu,pakan grower untuk itik berumur 9 – 20 minggu, danpakan petelur untuk itik berumur lebih dari 20 minggu.



KETAREN dan PRASETYO (2002) melaporkan bahwa kebutuhan gizi untuk itik petelur pada fase pertumbuhan umur 1 − 16 minggu cenderung lebih rendah yaitu sekitar 85 − 100% dari rekomendasi pada Tabel 1. Selanjutnya dilaporkan bahwa kebutuhan gizi untuk itik petelur fase produksi 6 bulan pertama cenderung lebih rendah (± 3%) dibanding kebutuhan gizi pada fase produksi 6 bulan kedua. Dilaporkan bahwa kebutuhan lisin untuk itik berumur 0 − 8 minggu adalah 3,25 g/kkal EM dengan tingkat energi 3.100 kkal EM/kg dan 2,75 g/kkal EM dengan tingkat energi 2.700 kkal EM/kg pakan. Dalam penelitian tersebut juga dilaporkan kebutuhan asam amino lain pada berbagai tingkat energi pakan seperti tertera pada Tabel 2

Contoh lain adalah MAHMUDI (2001) yang memberikan pakan starter ayam untuk itik petelur umur 1-7 hari. Kemudian itik umur 1-3 minggu diberi pakan dengan campuran 75% dedak halus, bekatul, menir, limbah roti atau beras rusak dan ditambah 25% pakan konsentrat. Setelah umur 4 minggu atau lebih, rasio campuran dari bahan diatas dirubah sesuai dengan umur itik dengan ketentuan: protein dan energi diturunkan pada fase pertumbuhan dan dinaikkan kembali pada fase bertelur. Tidak dilaporkan informasi tentang rasio campuran pakan untuk berbagai umur itik tersebut. Yusin, peternak itik petelur di Cirebon menggunakan dedak, menir dan ikan petek/rucah basah sebagai pakan utama untuk itiknya. Ikan petek pada musim panen banyak tersedia dengan harga bersaing di Cirebon. Ikan ini dicincang dalam bentuk segar lalu diberikan pada itik. Total pakan sebanyak 18 kg tersebut diatas diberikan untuk 90 ekor itik petelur/hari. Hasil analisa proksimat sampel pakan tersebut dalam bentuk kering di laboratorium menunjukkan bahwa kandungan protein kasar sebanyak 14,66%, energi kasar 4015 kkal/kg (atau setara dengan 2911 Kkal EM/kg), serat kasar 8,85%, Ca 0,31% dan P 1,12% (KETAREN dan PRASETYO, 2000). Jika dibandingkan dengan rekomendasi kebutuhan gizi untuk itik petelur seperti tertera pada Tabel 1 diatas maka hasil analisa proksimat sampel pakan peternak Cirebon diatas ternyata kandungan protein kasar dan Ca masih jauh lebih rendah dari rekomendasi atau dengan kata lain harus ditingkatkan kadarnya, misalnya dengan menambah jumlah ikan petek dan kulit kerang atau kapur ke dalam pakan.



Kebutuhan Gizi Itik Pedaging
Informasi kebutuhan gizi untuk itik pedaging di Indonesia belum tersedia karena itik pedaging juga belum umum diternakkan (KETAREN, 2001c). Walaupun demikian beberapa tahun terakhir ini peternak mulai menggemukkan itik pejantan dan itik Mandalung (= Mule duck: hasil persilangan antara entok dengan itik) selama 2 bulan dan kemudian dijual sebagai itik potong. Sementara belum ada rekomendasi untuk itik tipe dwiguna seperti itik Pekin untuk kondisi Indonesia, kebutuhan gizi untuk itik pedaging dibawah ini yang dikutip dari rekomendasi NRC (1994) untuk itik Pekin (Tabel 4) dapat digunakan sebagai acuan. 



Dari Tabel 4 ternyata kebutuhan protein kasar untuk itik Pekin umur 0 − 2 minggu lebih tinggi dari rekomendasi kebutuhan protein untuk itik petelur seperti tertera pada Tabel 1 yaitu masing-masing 22% untuk itik Pekin dan 17-20% untuk itik petelur. Pada Tabel 4, kebutuhan gizi untuk itik Pekin dikelompokkan menjadi starter umur 0-2 minggu, grower 2 − 7 minggu dan itik bibit. Pada umur 7 minggu itik Pekin diharapkan sudah mencapai bobot badan 2,10 kg (CHEN, 1996). 

Itik Pekin mulai di ternakkan di Indonesia baik sebagai penghasil bibit maupun penghasil daging. Saat ini untuk memenuhi permintaan konsumen, karkas itik Pekin masih diimpor dari luar negeri. Daging itik Pekin sudah umum disajikan oleh restoran atau hotel-hotel di kota besar seperti Jakarta. Daging itik jantan atau itik afkir banyak disediakan oleh rumah makan yang lebih kecil. Contoh formula pakan untuk itik Pekin pada umur starter, grower, developer dan layer disajikan pada Tabel 5.

Kebutuhan Air pada Ternak Itik
Air adalah gizi yang sangat penting bagi seluruh jenis ternak (LEESON dan SUMMERS, 1991). Misalnya, ayam tanpa air minum akan lebih menderita dan bahkan lebih cepat mati dibanding ayam tanpa pakan. Sebagai contoh, sekitar 58% dari tubuh ayam dan 66% dari telur adalah air (ESMAIL, 1996). Mutu air sering diabaikan oleh peternak karena kenyataan yang mereka lihat yaitu itik mencari makan dan minum ditempat kotor seperti kali, sawah atau bahkan di selokan. Air juga dapat berfungsi sebagai sumber berbagai mineral seperti Na, Mg dan Sulfur. Oleh karena itu, mutu air akan menentukan tingkat kesehatan ternak itik. Air yang sesuai untuk konsumsi manusia pasti juga sesuai untuk konsumsi itik. Air harus bersih, sejuk dengan pH antara 5 − 7, tidak berbau, tawar/tidak asin dan tidakmengandung racun. Jumlah kebutuhan air untuk unggas secara umum termasuk ternak itik diperkirakan sebanyak 2 kali dari kebutuhan pakan/ekor/hari.
ESMAIL (1996) mengestimasi bahwa konsumsi air untuk ayam akan meningkat sebanyak 7% setiap kenaikan temperatur udara lingkungan 1° C diatas 21° C. Kandungan maksimum Ca, Mg, Fe, Nitrit dan Sulfur dalam air minum unggas masing-masing berturut-turut 75, 200, 0,3 − 0,5, 0 dan 25 mg/liter. Kelebihan mineral tersebut dalam air akan mempengaruhi penampilan unggas termasuk itik yaitu gangguan pencernaan.

Dari hasil review diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: Kebutuhan gizi untuk itik petelur sedikit berbeda dengan itik pedaging Pekin dan Mandalung. Rekomendasi kebutuhan gizi untuk itik petelur dan pedaging dikelompokkan kedalam 3 kelompok umur yaitu: starter, grower dan layer, kecuali untuk itik Mandalung tidak ada layer dan itik Pekin ditambah kelompok umur developer. Jenis bahan pakan ternak itik pada dasarnya memiliki kesamaan dengan bahan pakan yang umum digunakan untuk unggas lain. Kuantitas dan kualitas air untuk ternak itik sangat penting diperhatikan.

(Sumber : WARTAZOA Vol. 12 No. 2 Th. 2002, Kebutuhan Gizi Itik Petelur dan Itik Pedaging, Dr. Pius Ketaren)

Tepung Bulu Sebagai Pakan Ternak

Salah satu produk limbah yang tersedia dalam jumlah banyak dan belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan baku pakan adalah bulu ayam/unggas. Bulu ayam berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber protein pakan alternatif pengganti sumber protein konvensional seperti bungkil kedele dan tepung ikan. Bulu-bulu itu dapat dimanfaatkan untuk campuran pakan ruminansia, non ruminansia, dan unggas. Dukungan ketersediaan limbah berupa bulu sangat terjamin kontinuitasnya sehubungan jumlah ayam yang dipotong dari tahun ke tahun semakin meningkat sehingga bulu ayam yang dihasilkan juga meningkat. Pemanfaatan limbah bulu menjadi pakan ternak sangat memberikan dampak positif karena sekaligus mampu mengatasi permasalahan limbah bulu apabila tidak dikelola dengan baik.

Bulu ayam mengandung protein kasar sekitar 80-91 % dari bahan kering (BK) melebihi kandungan protein kasar bungkil kedelai 42,5 % dan tepung ikan 66,2 % (Anonimus, 2003). Namun, kandungan protein kasar yang tinggi tersebut tidak diikuti oleh nilai biologis yang tinggi. Tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik bulu ayam secara in vitro masing-masing hanya 5,8 % dan 0,7 %. Nilai kecernaan yang rendah disebabkan bulu ayam sebagian besar terdiri atas keratin yang digolongkan ke dalam protein serat. Keratin merupakan protein yang kaya asam amino bersulfur, dan sistin. Ikatan disulfida yang dibentuk di antara asam amino sistin menyebabkan protein bulu sulit dicerna, baik oleh mikroorganisme rumen maupun enzim proteolitik dalam saluran pencernaan pasca rumen. Keratin dapat dipecah melalui reaksi kimia dan enzim sehingga pada akhirnya dapat dicerna oleh tripsin dan pepsin di dalam saluran pencernaan. Oleh karenanya, bila bulu ayam akan dimanfaatkan sebagai bahan pakan sumber protein, sebaiknya perlu diolah terlebih dahulu untuk meningkatkan kecernaannya. Tepung Bulu Terolah/ Terhidrolisa sebagai bahan pakan harus melalui suatu proses pengolahan terlebih dahulu dan hasilnya inilah yang dinamakan tepung bulu terolah sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pakan asal hewan yang potensial untuk mengurangi harga ransum yang berasal dari pemanfaatan limbah.

Berbagai metode pengolahan untuk meningkatkan nilai nutrien bulu unggas, yaitu 1) perlakuan fisik dengan pengaturan temperatur dan tekanan, 2) secara kimiawi dengan penambahan asam dan basa (NaOH, HCL), 3) secara enzimatis dan biologis dengan mikroorganisme dan 4) kombinasi ketiga metode tersebut. Hidrolisat bulu ayam adalah bahan pakan sumber protein yang dapat diproduksi secara lokal dengan kandungan protein kasar sebesar 81−90,60% (NRC, 1985; Sutardi, 2001 dalam Siregar, 2005). Protein hidrolisat bulu ayam kaya asam amino bercabang yaitu leusin, isoleusin, dan valin dengan kandungan masing-masing sebesar 4,88, 3,12, dan 4,44%, namun defisien asam amino metionin dan lisin. Untuk memenuhi kebutuhan asam lemak rantai cabang bagi pertumbuhan bakteri selulolitik maka dilakukan suplementasi hidrolisat bulu ayam sebagai sumber asam amino rantai cabang yang berperan sebagai prekusor asam lemak rantai cabang.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan nilai biologis bulu ayam dapat ditingkatkan dengan pengolahan dan pemberian perlakuan tertentu. Contoh, bulu ayam yang diolah dengan proses NaOH 6 % dan dikombinasikan dengan pemanasan tekanan memberikan nilai kecernaan 64,6 %. Lama pemanasan juga dapat meningkatkan kecernaan pepsin bulu ayam hingga 62,9 %. Namun, pemanasan yang terlampau lama dapat merusak asam amino lisin, histidin dan sistin serta menyebabkan terjadinya reaksi kecoklatan (browning reaction).

Keunggulan penggunaan tepung bulu ayam untuk ternak ruminansia adalah tepung mengandung protein yang tahan terhadap perombakan oleh mikroorganisme rumen (rumenund egradable protein/RUP), tetapi mampu diurai secara enzimatis pada saluran pencernaan pasca rumen. Nilai RUP berkisar 53-88 %, sementara nilai kecernaan dalam rumen hanya 12-46 %. Penggunaan tepung bulu ayam sebagai bahan pakan sumber protein ternak ruminansia merupakan salah satu pilihan yang perlu mendapat pertimbangan. Pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba rumen terutama bakteri selulolitik membutuhkan asam lemak rantai cabang(BCFA). Bakteri selulolitik menggunakan asam lemak rantai cabang sebagai kerangka karbon untuk sintesis protein tubuhnya. Asam lemak rantai cabang yakni isobutirat, isovalerat dan 2- metil butirat diperoleh dari protein pakan. Asam lemak rantai cabang ini adalah hasil deaminasi dan dekarboksilasi dari asam amino rantai cabang (BCAA) yakni leusin, isoleusin, dan valin. Bila kandungan asam amino rantai cabang pakan rendah maka asam lemak rantai cabang merupakan faktor pembatas pertumbuhan bakteri selulolitik.

Hidrolisat bulu ayam kaya akan asam amino bercabang yaitu leusin, isoleusin, dan valin dengan kandungan masing-masing sebesar 4,88, 3,12, dan 4,44%, namun defisien akan asam amino metionin dan lisin. Untuk memenuhi kebutuhan asam lemak rantai cabang bagi pertumbuhan bakteri selulolitik maka dilakukan suplementasi hidrolisat bulu ayam sebagai sumber asam amino rantai cabang yang berperan sebagai prekusor asam lemak rantai cabang. Bagi ternak ruminansia mineral merupakan nutrien yang esensial, selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan ternak juga memasok kebutuhan mikroba rumen. Hidrolisat bulu ayam adalah bahan pakan sumber protein yang dapat diproduksi secara lokal dengan kandungan protein kasar sebesar 81−90,60% (NRC, 1985; Sutardi, 2001). Hasil pengujian biologis, tepung bulu dapat digunakan sebagai pengganti komponen bahan pakan penyusun konsentrat untuk ternak ruminansia.

Penggunaan tepung bulu ayam untuk ransum unggas sebagai pengganti sumber protein pakan konvensional (bungkil kedelai) sampai dengan taraf 40 % dari total protein ransum memberikan respons sebaik ransum kontrol. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung bulu dapat digunakan pada level tidak lebih dari 4 % dari total formula ransum tanpa membuat produktivitas unggas merosot. Semakin baik pengolahannya, semakin baik pula hasilnya. Semakin banyak digunakan tepung ini justru akan menekan prestasi unggas, produksi telur berkurang dan pertambahan berat badan juga merosot (Rasyaf, 1992). Sebagai bahan makanan unggas dan juga babi, tepung bulu ini memang tergantung pada kemampuan mengolah tepung bulu itu.

Hasil Penelitian Erpomen et al. (2005) Ransum perlakuan dengan susunan sebagai berikut : A = Ransum tanpa TBA (kontrol), B = Penggantian 25 % protein tepung ikan dengan TBA, C = Penggantian 50 % protein tepung ikan dengan TBA, D = Penggantian 75 % priotein tepung ikan dengan TBA, E = Penggantian 100 % protein tepung ikan dengan TBA. Peubah yang diamati selama penelitian : konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konvensi ransum. Hasil penelitian tahap I menunjukkan tidak terdapat interaksi (P>0,05) antara dosis NaOH dengan lama pengukusan terhadap BK, PK, LK dan pengukusan fermentasi TBA memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,05) terhadap BK, PK, LK dan daya cerna protein (TBA). Hasil analisis tahap 2 menunjukkan bahwa bulu ayam yang telah diolah pada tahap I memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap konsumsi ransum, PBB dan konversi ransum. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa : Konsentrasi NaOH dan lama pemanasan yang terbaik adalah 0,2 % dengan lama pemanasan 90 menit yang memberikan daya cerna protein tertinggi 45,02 % dan kandungan lemak kasar terendah 13,37 % serta protein kasar 53,79 %. Bulu ayam yang diolah dengan NaOH dapat dipakai sampai level 15 % (75 % pengganti tepung ikan) dalam ransum broiler. Hal ini dilihat dari konsumsi ransum, PBB, dan konversi ransum yang sama dengan ransum tanpa bulu ayam. Jadi dapat disimpulkan bahwa : Konsentrasi NaOH dan lama pemanasan yang terbaik adalah 0,2 % dengan lama pemanasan 90 menit yang memberikan daya cerna protein tertinggi 45,02 % dan kandungan lemak kasar terendah 13,37 % serta protein kasar 53,79 %. Bulu ayam yang diolah dengan NaOH dapat dipakai sampai level 15 % (75 % pengganti tepung ikan) dalam ransum broiler. Hal ini dilihat dari konsumsi ransum, PBB, dan konversi ransum yang sama dengan ransum tanpa bulu ayam.

Kesimpulan : 1) Penggunaan tepung bulu unggas dapat menggantikan pakan sumber protein konvensional seperti bungkil kedelai dan tepung ikan, 2) Pemanfaatan tepung bulu ayam sebagai pakan dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan bulu ayam yang tidak tepat, dan 3) Pemberian tepung bulu unggas tidak boleh lebih dari 4 % dari total formula ransum.
(Dari berbagai sumber)

Potensi Pemanfaatan Bungkil Inti Sawit sebagai Pakan Unggas

Saat harga bahan pakan konvensional seperti jagung dan kedelai meningkat, penggunaan bahan pakan alternatif patut dipertimbangkan. Apapun bahan pakan yang akan digunakan, paling tidak harus mempertimbangkan beberapa aspek antara lain ekonomis, ketersediaan, kontinyuitas dan nutrisi. Dari aspek ekonomis, bahan pakan pengganti maksimal 70% dari harga bahan pakan yang digantikan. Misalnya, kalau  mau mengganti jagung yang berharga Rp 3.000, maka harga bahan pakan pengganti jagung harus di bawah harga Rp 2.100. Dengan demikian ada ruang untuk memberikan tambahan perlakuan dalam upaya meningkatkan mutu bahan pakan tersebut atau mutu ransum secara keseluruhan.
Untuk pemanfaatan bungkil inti sawit dalam ransum unggas, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan, sbb:
  • Kualitas bungkil inti sawit bervariasi tergantung pada kandungan minyak bungkil inti sawit dan kontaminasi tempurung kelapa sawit. Kandungan minyak dalam bungkil inti sawit tergantung dari proses ektraksi minyaknya. Dalam hal ini penggunaan mesin ekspeller cenderung menghasilkan produk yang tinggi kandungan minyaknya. Variasi kandungan minyak akan menyebabkan variasi nilai ME nya berkisar 1525-2260 kkal/kg. Semakin tinggi minyaknya (6-1%) akan menghasilkan kandungan ME yang tinggi. Kontaminasi tempurung kelapa sawit akan menekan nilai gizi bahan pakan ini. Kandungan tempurung kelapa sawit ideal di bawah 10%.
  • Asam amino bungkil inti sawit sangat tidak seimbang. Kandungan lysine dan methionine sangat rendah sedangkan argininenya sangat tinggi. Karena itu harus ada penambahan lysine dan methione untuk menyeimbangkan dan memenuhi kebutuhan asam amino tersebut.
  • Nilai kecernaan bungkil inti sawit cukup rendah baik kecernaan bahan kering, maupun protein dan asam amino. Karena itu ketika menggunakan bungkil inti sawit dalam jumlah tinggi, misalnya 20%, maka penyusunan ransum harus berbasis nutrisi tercerna terutama asam aminonya.
  • Pertumbuhan cenderung rendah di bulan pertama akibat mengkonsumsi bungkil inti sawit dan kompensasi pertumbuhannya setelah umur di atas 4 minggu. Karena itu penggunaan bungkil inti sawit, baiknya digunakan untuk ayam pedaging yang dipelihara diatas empat minggu agar didapatkan pertumbuhan yang optimal. 
Demi memperoleh hasil optimal, perlu ada peningkatan kecernaan bungkil kelapa sawit. Peningkatan kecernaan ini akan memaksimalkan pemanfaatan nutrisi dalam bungkil inti sawit. Untuk itu dibutuhkan enzim yang dapat memaksimalkan kualitas bungkil inti sawit dan pakan secara keseluruhan. Dalam bungkil inti sawit, sekitar 60% fraksi nutrisinya berupa cellulose (10-14%), lemak (1-10%), protein (13-22%), arabinoksilan dan glukoronoxilan (3-6%), mineral (6-8%). Untuk menghancurkan fraksi tersebut, dibutuhkan berbagai enzim yang berhubungan dengan fraksi itu. Misalnya: enzim cellulase untuk cellulose, xylanase untuk arabinoxylan dan glucoronoxylan, protease untuk protein dan phytase untuk beberapa mineral. Untuk pakan secara keseluruhan, mayoritas komposisinya (? 70%) ada dalam bentuk pati, protein dan cellulose. Karena itu, lagi-lagi, enzim protease untuk protein, amylase untuk pati dan cellulase untuk cellulose dibutuhkan untuk membantu proses pencernaan dan meningkatkan kualitas pakan. 

Menjawab kebutuhan terseebut, PT Alltech Biotechnology Indonesia memiliki produk enzim dengan merek dagang Allzyme?SSF yang diproduksi oleh Alltech Inc., USA. Allzyme?SSF mengandung seluruh enzim yang disebutkan di atas sehingga cocok untuk ransum yang berbasis bungkil inti sawit. Beberapa penelitian terakhir menunjukkan, penambahan Allzyme?SSF sebanyak 200 g/ton pakan broiler bisa meningkatkan kecernaan, performa, income over feed cost (pendapatan/keuntungan), keseragaman tumbuh dan bisa menurunkan kandungan air feses. Jadi, penggunaan bungkil inti sawit dalam ransum unggas cukup prospektif. Meski tidak mengandung antinutrisi, namun cukup palatable (bisa diterima, lezat). Dengan mempertimbangkan aspek-aspek di atas, penggunaan bungkil inti sawit akan mendapatkan hasil optimal.

Aplikasi Pakan Silase Untuk Ternak Itik

Kendala utama yang dihadapi peternak itik petelur dan pedaging skala menengah ke bawah adalah ketersediaan pakan berkualitas terutama pada musim kemarau atau musim tidak bertanam padi. Kendala ini terjadi karena sebagian besar pakan yang dipakai untuk itik tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Dedak (sumber energi utama) misalnya sangat mudah menjadi tengik dan terserang kutu (serangga), sedangkan keong, ikan rucah dan kepala udang (sumber protein utama) sangat mudah busuk karena tersedia dalam bentuk segar. Berdasarkan pengamatan di lapang diketahui bahwa dedak dapat bertahan dari ketengikan dan serangan kutu paling lama tiga minggu, sedangkan keong, ikan runcah dan kepala udang dapat bertahan paling lama sehari bila bahan pakan tersebut disimpan dalam suhu dan kelembaban ruang seperti di Indonesia (suhu di atas 29 dan kelembaban di atas 85). Konsekuensi dari permasalahan ini adalah tidak langgengnya usaha budidaya itik atau dengan perkataan lain jarang sekali ada peternak itik yang dapat bertahan dalam kondisi kekurangan pakan berkualitas, jika pun ada yang bertahan, profit mereka sangat kecil atau bahkan merugi. Kombinasi usaha produksi telur itik dengan usaha penetasan juga tidak banyak membantu mengingat daya jual day of ducks (DOD) pada saat musim kemarau menurun secara nyata.

Upaya untuk memperpanjang masa simpan pakan telah dilakukan dengan menerapkan teknologi pengeringan (penurunan kadar air), tetapi upaya tersebut masih belum dapat mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau, karena daya tahan bahan pakan yang diolah dengan teknologi pengeringan tidak lebih dari 45 hari., sedangkan kekurangan pakan berkualitas tinggi di Indonesia dapat terjadi selama musim kemarau (enam bulan). Sehingga teknologi pengolahan pakan alternatif yang dapat mempertahankan pakan minimal selama enam bulan menjadi suatu kebutuhan. Aplikasi teknologi fermentasi an-aerob pada bahan pakan dan ransum, teknologi ensilage, adalah jawaban yang tepat untuk menanggulangi permasalahan kekurangan pakan.

Teknologi ensilage umumnya diapliaksikan pada ternak ruminansia, seperti sapi. Pertanyaannya, mungkinkah unggas khususnya itik diberi pakan silase? Berikut disampaikan hal yang terkait dengan teknologi silase serta pengaruh pemberiannya terhadap konsumsi air, laju perjalanan pakan dalam saluran pencernaan dan performan itik pedaging.

Silase dan Kelebihannya
Silase adalah bahan pakan atau ransum berkadar air tinggi (40 - 70%) yang diawetkan dalam kondisi an-aerob selama waktu tertentu. Silase dikatakan baik jika mempunyai pH 3-4, bau asam (didominasi oleh asam laktat), tidak berjamur mempunyai warna seperti atau mendekati warna bahan pakan atau ransum sebelum difermentasi, mengandung bakteri asam laktat lebih dari 106, dan mempunyai nilai gizi yang hampir sama dengan bahan asalnya karena kehilangan bahan kering selama proses fermentasi sangat sedikit. Silase yang baik dapat bertahan lebih dari satu tahun bila disimpan dalam kondisi an-aerob tanpa secara nyata menurunkan nilai gizinya.

Semua bahan pakan dapat dijadikan silase dengan prasyarat sebagai berikut. Bahan pakan sumber energi berkadar air tinggi akan jauh lebih mudah dibuat silase dibandingkan dengan bahan pakan sumber protein karena bahan pakan sumber protein memerlukan penambahan sumber energi yang cukup untuk keberhasilan pembuatannya. Bahan pakan yang sudah terlanjur kering seperti dedak, pollard, bungkil inti sawit, bungkil kelapa dll perlu penambahan air dan bakteri asam laktat jika ingin dibuat silase. Sedangkan ransum komplit (campuran beberapa bahan pakan) lebih mudah dibuat silase dengan tingkat keberhasilan yang lebih baik dibandingkan dengan silase bahan baku.

Selain dapat bertahan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan dengan bahan pakan yang diolah dengan teknologi pengeringan, silase mengandung asam organik dan bakteri asam laktat yang sangat berguna dalam meningkatkan efisiensi penggunaan pakan. Saat ini di beberapa negara maju asam organik telah diklaim sebagai bahan pemacu pertumbuhan (growth promoter), disamping sebagai bahan pengawet bahan pakan dan pangan, sedangkan bakteri asam laktat telah umum diketahui sebagai probiotik. Sehingga pemberian pakan silase pada ternak tidak memerlukan lagi penambahan bakteri asam laktat (probiotik) dan asam organik (pemacu pertumbuhan), dengan perkataan lain pemberian pakan silase pada ternak akan mengurangi biaya pakan dan sekaligus juga dapat menurunkan impor BAL dan asam organik dalam jangka panjang. Lebih jauh ternak yang diberi silase akan memperoleh air alami (air dalam bahan pakan ), sehingga kebutuhan air dari luar menjadi lebih sedikit.

Texture dan Palatabilitas Silase Ransum Komplit pada Itik
Tingkah laku itik dalam makan cukup unik karena setiap pakan yang dimakan selalu dibawa ke air minum. Keadaan ini jika tidak diperhatikan oleh peternak secara seksama akan membuat banyak pakan tercecer (terbuang) yang mengakibatkan tingginya konversi pakan. Pakan yang terbuang selain terdapat di dalam air minum juga ada yang terbuang diantara pakan dan air minum. Makin jauh jarak tempat pakan dan air minum makin banyak pakan yang terbuang. Kiat untuk mengurangi pakan yang terbuang adalah dengan meletakkan tempat pakan dan air minum sedekat mungkin (menempel) dengan cara menaruh tempat air minum di tengah tengah tempat pakan. Bentuk pakan yang diberikannya pun perlu diperhatikan. Pakan yang diberikan dalam bentuk pellet, crumble, dan pasta umumnya lebih sedikit yang terbuang dibandingkan dengan pakan bentuk mash (tepung)
Silase ransum komplit untuk pakan bebek dengan basis utama butiran dan bijian serta hasil sampingnya mempunyai tekstur yang lunak dan kompak. Tekstur seperti ini terjadi selain karena pengaruh kadar air yang tinggi dan pemadatan, juga karena adanya proses fermentasi yang merubah gula larut dalam air menjadi asam organik. Makin tinggi kadar air makin tinggi pula tingkat kelunakan dan kekompakan, dan tekstur yang dimilikinya pun mendekati tekstur pasta. Sehingga pakan silase cocok diberikan pada itik dalam rangka mengurangi terbuangnya bahan pakan akibat dari kebiasaan makan itik yang unik.

Palatabilitas (kesukaan makan) ternak termasuk itik terhadap pakan silase tidak sebaik pakan hasil olahan kering. pH yang rendah merupakan faktor utama yang membuat rendahnya palatabilitas silase. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pH silase yaitu dengan mengangin anginkan silase sebelum diberikan atau mencampurkan dengan pakan hasil olahan kering. Bila pH silase meningkat menjadi lima pada saat diberikan, maka palatabilitas silase nyata meningkat. Selain pH, faktor kebiasaan makan terhadap pakan silase juga menjadi faktor penentu palatabilitas. Ternak termasuk itik yang sudah terbiasa makan ampas tahu atau pakan sejenis yang berbau asam akan suka makan silase dibandingkan dengan ternak yang tidak terbiasa makan pakan jenis tersebut. Sehingga untuk itik yang belum terbiasa makan pakan silase diperlukan waktu beberapa hari untuk beradapatasi sebelum tingkat konsumsinya menjadi normal.

Performan Itik yang Diberi Pakan Silase
Dalam upaya menjawab pertanyaan apakah mungkin memberikan pakan silase ransum komplit pada itik maka penelitian untuk mengkaji pengaruh pemberian pakan silase terhadap performan itik jantan telah dilakukan pada kandang tertutup. Pakan tersusun dari beberapa bahan pakan lokal seperti singkong, dedak, kedele, tepung ikan, jagung, dan campuran vitamin dan mineral yang diformulasikan sesuai dengan kebutuhan itik periode pertumbuhan. 75 ekor itik umur 7 minggu dibagi menjadi 5 kelompok dan diberikan salah satu perlakuan pakan yaitu: RO. Pakan kontrol BR1 + dedak (50:50); R1. Silase Ransum Komplit (SRK) berkadar air 30%; R2. Silase Ransum Komplit (SRK) berkadar air 40%; R3. Silase Ransum Komplit (SRK) berkadar air 50%; dan R4. Silase Ransum Komplit (SRK) berkadar air 60%. Pakan dan air minum diberikan ad libitum setiap pagi dan sore. Setiap kelompok kandang ukuran 1 m2 diisi dengan 5 ekor itik. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun konsumsi pakan semua silase pada itik tidak sebaik pakan kontrol namun pertambahan bobot badan dan konversi pakan yang dihasilkan sebanding. Hasil ini menunjukkan bahwa pakan silase lebih baik dibandingkan dengan pakan kontrol karena untuk menghasilkan bobot yang sama dibutuhkan jumlah pakan yang lebih sedikit. Selain itu, konsumsi air minum itik yang diberi silase lebih rendah dari itik yang diberi pakan kontrol yang berimplikasi pada kebutuhan air minum dari luar yang lebih sedikit. Sehingga dari hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa pakan silase mungkin dan layak diberikan pada itik.

Silase ransum komplit mempunyai daya simpan lebih dari enam bulan dan layak diberikan pada itik. Konsumsi pakan yang rendah tidak perlu dihawatirkan sepanjang tidak mempengaruhi pertambahan bobot badan harian itik. Aplikasi teknologi ini pada ransum berbasis bahan pakan lokal yang umum dipakai pada itik dapat menjamin ketersediaan dan kualitas pakan sehingga budidaya itik dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa harus bergantung pada musim.
(Sumber : Nahrowi*, M. Ridla* dan Allaily** *Bagian Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB  Sekjen AINI. **Departement Peternakan, Fakultas Pertanian, Unsyiah, Dikutip dari : www.aini-online.org)

Eceng Gondok Tingkatkan Kualitas Telur Itik

Ternak itik berpotensi besar untuk dikembangkan, karena mampu memproduksi telur yang tinggi, tidak mengerami telurnya, harganya relatif stabil dan pemasaran telur relatif murah. Salah satu faktor yang paling menentukan dalam usaha ternak itik adalah faktor makanan sebagai kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi bagi kelangsungan hidup dan proses biologis di dalam tubuh ternak.

Eceng gondok merupakan gulma air yang sering merusak lingkungan dan tidak dimanfaatkan dapat dipergunakan sebagai salah satu bahan makanan yang bisa menekan harga ransum. Pemberian eceng gondok pada makanan itik itu, tidak mempunyai pengaruh negatif terhadap produksi telur baik dari segi berat maupun jumlah butirnya. Penggunaan eceng gondok itu berpengaruh terhadap warna kuning telur dan tebalkulit telur.

Salah satu alternatif pemanfaatan eceng gondok adalah dimanfaatkan sebagai bahan pakan karena kadar protein kasarnya tinggi (11,2%). Kendalanya adalahi kecernaan nutriennya rendah, sehingga perlu pengolahan, salah satunya dengan fermentasi dengan Aspergilus niger. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan asam amino dan kecernaan nutrien eceng gondok yang difermentasi dengan Aspergilus niger pada itik Tegal jantan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata pada asam amino aspartat, dimana asam aspartat daun eceng gondok tanpa fermentasi sebesar 2,03% dan 1,4% pada hasil fermentasi. Kecernaan bahan organik berbeda nyata antara yang difermentasi (37,31%) dan tidak difermentasi (30,15%). Sedangkan kecernaan serat kasar tidak berbeda nyata antaradaun eceng gondok yang difermentasi ( 36,48%) dan yang tidak difermentasi (33,24%). Kesimpulan yang diambil adalah fermentasi daun eceng gondok dengan Aspergillus niger tidak meningkatkan kandungan asam amino dan kecernaan serat kasar, tetapi mampu meningkatkan kecernaan bahan organik pada ternak itik.

Sementara itu, hasil penelitian di BPTP Minahasa Sulsel, menunjukan bahwa selama ini kualitas telur untuk perlakuan kontrol (pakan basal) berat telurnya rata-rata 57,7 gram/butir dan untuk perlakuan yang diberi makanan eceng gondok mencapai 59,19 gram/butir.Kontrol adalah 7,29 dan pada perlakuan yang diberi daun eceng gondok adalah 9,10. Kemudian persentase berat kuning telur pada perlakuan kontrol 35,16 persen dan 35,99 persen pada pemberian daun eceng gondok. Rata-rata persentase berat putih telur pada perlakuan kontrol adalah 46,76 persen dan perlakuan dengan pemberian daun eceng gondok adalah 48,69 persen.

Pada perlakuan kontrol (pakan basal), itik diberikan ransum basal dengan kandungan protein kasar 16,06 persen dan energi metabolisme 2544,22- kilo kalori/kg ransum. Melalui pemberian daun eceng gondok pada makanan itik diperoleh konsumsi ransum berdasarkan bahan kering sebanyak 111,79 gram/ekor/hari.Eceng gondok dapat diberikan sampai 10 persen dalam ransum.

Cara pemberiannya ransum basal ditambah daun eceng gondok dalam keadaan segar. Guna menjaga kesegaran dari daun eceng gondok, sebaiknya pengambilan dari lokasi dilakukan setiap pagi. Sebelum diberikan, daun terlebih dahulu dicincang hingga kecil.
(Dari berbagai sumber)

Itik Pedaging Panen 40 Hari

Membengkaknya permintaan itik pedaging membuat kehadiran itik pedaging unggul yang cepat panen sangat diperlukan. Apalagi saat ini itik pedaging yang dipakai merupakan itik petelur. Bila itik petelur terus dipakai akan terjadi pengurasan sumber daya genetik itik petelur. Oleh karenanya banyak peternak melakukan penyilangan untuk mendapatkan itik pedaging cepat panen.

Di Jatijajar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, H Engko Koswara juga memelihara itik pedaging yang dipanen 40 hari. Itik itu merupakan keturunan ke-3 (F3) dari persilangan antara jantan itik peking dan betina itik pajajaran. Menurut Engko F3 yang dihasilkan sudah 80% mirip itik lokal. Leher panjang, dan warna bulu dominan campuran cokelat dan putih atau kehitaman dan putih. “Darah pekingnya terlihat dari ukuran tubuh dan pantat itik yang besar,” ungkap Engko yang mulai menyilangkan itik sejak 2005.

Bebek silangan tanpa nama itu istimewa karena bobot 1,5 kg diperoleh dalam waktu 40 hari. Bahkan keturunan pertama (F1) bisa mencapai bobot 1,6 - 1,7 kg dalam waktu 30 hari. Engko memang tidak mempertahankan kehadiran F1 sebab ketua kelompok ternak bebek Family itu berharap itik barunya tetap bersosok itik lokal. “Pada F1 sekitar 60% masih mirip itik peking, lehernya pendek dan bulunya putih,” katanya.

Masih di wilayah Jawa Barat, Abdul Wahid di Kabupaten Cirebon pun beternak silangan F3 antara jantan itik peking dan betina rambon. Seperti Engko, Wahid yang pertama kali menyilangkan itik pada 2008 itu menginginkan itik silangannya seperti itik lokal. “Meski F3 sudah mirip, berbulu cokelat, tapi belum stabil untuk dijadikan induk. Sampai sekarang masih terus disilangkan,” kata Wahid yang memberi nama bebek cirebon alias BC pada itik baru itu.

Bebek cirebon memiliki keunggulan lantaran bisa mencapai bobot 2 kg selama 60 hari pemeliharaan. Bila berpatokan pada ukuran pasar - 1,4 - 1,5 kg per ekor - itik bisa dipanen sekitar 45 hari masa budidaya.

Sayangnya itik baru itu rakus pakan, tidak seperti itik baru silangan Yanto dan Engko yang porsi pakannya seperti memelihara itik biasa. “Pakan itik BC bisa 3 kali lipat,” ujar Wahid yang memberi campuran pakan terdiri dari menir, dedak, dan konsentrat dengan perbandingan 4:4:1 itu. Sebagai ilustrasi untuk 100 itik rambon jumlah pakan yang dibutuhkan 16 kg/hari, sementara itik BC dengan populasi sama perlu sekitar 45 kg/hari.

Pasar butuh
Peternak seperti Yanto, Engko, dan Wahid pada mulanya memang tidak berniat menghasilkan itik baru yang pertumbuhannya lebih cepat. Mereka memanfaatkan induk itik peking yang awalnya dipelihara sebagai pedaging. “Setelah dipelihara ternyata pasar itik peking belum terbuka sehingga sulit memasarkannya,” kata Wahid yang merugi hingga puluhan juta rupiah itu. Itik peking yang masih tersisa kemudian dipelihara dengan cara disatukandangkan bersama itik rambon yang berujung munculnya itik baru.

Faktor ‘ketidaksengajaan’ itu kini secara tidak langsung menjadi solusi dari sulitnya memperoleh pasokan itik pedaging untuk memenuhi permintaan rumah makan, restoran, dan warung-warung tenda penyedia menu bebek yang terus meningkat. Sebagai gambaran seretnya pasokan tercermin dari kebutuhan sebuah rumah makan penyedia itik di Jakarta Selatan. “Kebutuhan sehari 75 ekor, tapi dalam seminggu hanya 2 - 3 hari yang bisa penuh terisi,” ujar Sugeng Widodo, pemilik yang bermitra dengan 3 pengepul itu.

Kondisi serupa juga tampak di restoran Bebek Garang di Bandung, Jawa Barat, misalnya. Dari kebutuhan 100 itik per hari, tidak sepenuhnya terpasok. Padahal, pada akhir pekan kebutuhan itik melambung hingga 120 - 150 ekor. “Barang mulai sulit dicari, apalagi untuk ukuran karkas 8 - 9 ons,” kata Berry Syah Maulana, manajer pemasaran. Itu pula yang juga dialami Ali, pemilik warung bebek di bilangan Boromeus Bandung yang menyerap hingga 150 ekor per hari.

Bergeser ke hulu, peternak pembesar saat ini memang kesulitan menggenjot produksi karena pasokan day old duck (DOD) itik pedaging masih terbatas. Penetas DOD seperti Suherman, misalnya, meski sudah menggenjot produksi hingga 45.000 DOD, tetap kelimpungan. “Permintaan sampai 100.000 DOD per bulan,” kata penetas di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu.

Imbasnya seperti dialami Dody Faizal, peternak di Mojokerto, Jawa Timur. Permintaan yang datang berulang-ulang kerap ditolak. “Saat ini yang bisa dipasok sekitar 500 ekor/minggu,” kata Dody yang memelihara 4.000 itik mojosari itu. Hal sama diungkapkan oleh Ade, Uyu, dan Arifin - ketiganya pengepul itik di Bandung, Jawa Barat. “Untuk mendapat 500 ekor per hari saat ini sulit bukan main,” kata Ade yang mensyaratkan karkas berbobot 6 - 8 ons itu. Padahal, permintaan pelanggan yang mesti dilayani mencapai 1.000 ekor/hari.

Silangan
Sejak 2 tahun lalu kondisi pasar itu sudah diprediksi Acas Sarminto. “Tanpa inovasi dalam pengembangan itik sulit memenuhi kebutuhan pasar,” kata peternak di Surabaya, Jawa Timur, itu. Acas yang mengembangkan itik peking pun mulai berkonsentrasi menyilangkan itik peking dan itik mojosari. “Hasil silangan ini sudah ada sekitar 1.000-an ekor,” kata pemilik Gerai Bebek Peking yang menargetkan panen itik berbobot 1,8 kg dalam waktu 50-an hari itu.

Pun Sofwan di Jombang, Jawa Timur. Sofwan saat ini membesarkan itik raja silangan jantan itik mojosari dan betina alabio yang diperoleh dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak) di Ciawi, Kabupaten Bogor. “Itik raja bisa dipanen setelah berumur 40 - 42 hari dengan bobot 1,2 - 1,3 kg/ekor,” kata koordinator PPL di Kecamatan Wonosalam yang kini memelihara 600 itik raja.

Balitnak pun tidak ketinggalan untuk memasok itik unggul pedaging. Menurut Dr Hardi Prasetyo MAgr Sc, Balitnak telah meluncurkan itik pedaging PMp yang merupakan hasil persilangan antara itik jantan peking dan betina itik mojosari putih. Kehadiran itik yang pada umur 10 pekan dapat mencapai bobot 2 - 2,5 kg/ekor dengan kulit bersih dan cerah itu diharapkan mampu mengurangi pemakaian itik petelur yang saat ini sumber itik pedaging. “Dengan begitu tidak terjadi pengurasan sumberdaya genetik itik petelur,” ujar peneliti madya bidang Penelitian, Pemuliaan, dan Genetika Ternak di Balitnak itu.

Meski itik-itik silangan baru itu sudah diternak, tetapi sejauh ini ketersediaan DOD masih menjadi kendala. Faktor itu muncul lantaran belum stabilnya genetik itik-itik baru itu. Maka dari itu wajar bila harga DOD itik baru bisa mencapai 2 - 3 kali lipat harga DOD itik biasa yang berkisar Rp3.000 - Rp4.000 per ekor itu. Toh sebagai salah satu solusi sumber pasokan kehadiran itik-itik baru itu pantas dilirik. (Dian Adijaya S/Peliput: Faiz Yajri, Tri Susanti, dan Rosy Nur Apriyanti)
Sumber : www.trubus-online.com

Pemanfaatan Keong untuk Pakan Tambahan Bebek

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan, pasti tidak asing lagi dengan yang namanya keong. Dengan sebagian besar masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani, tentu tidak sulit untuk menemukan keong disawah-sawah mereka. Keong ini banyak ditemukan terutama pada saat sawah petani dialiri oleh air. Dengan banyaknya keong-keong yang bertebaran disawah tentu membuat banyak petani kesal, karena keong-keong tersebut memakan tanaman padi milik petani yang relatif kebanyakan masih muda.

Sampai sekarang memang keong merupakan hama yang menjadi momok bagi petani padi, terutama pada saat musim menanam padi. Banyak upaya yang telah dilakukan oleh petani untuk menghilangkan dan membuat keong tidak mengganggu tanaman padi miliknya. Tapi, keong juga bisa bermanfaat terutama bagi petani di pedesaan yang memelihara ternak itik atau lebih umum dikenal dengan nama bebek. Keong bisa dijadikan pakan tambahan sebagai sumber protein untuk meningkatkan produksi telur bebek. Adapun keong yang umum dimanfaatkan sebagai pakan tambahan biasanya keong mas.


Berdasarkan antaranews.com (2010), keong mas yang banyak dijumpai di persawahan atau pada tanaman yang cukup basah mengandung protein yang cukup tinggi, yakni 44 – 46,2 %. Oleh karena itu, keong mas bisa dijadikan alternatif sebagai pakan tambahan untuk ternak bebek untuk meningkatkan produksi telur.
Perawatan ternak bebek tidak sulit, jenis makanan apapun asal tidak basi bebek tidak akan ragu-ragu untuk memakannya. Bebek juga terkenal dengan unggas yang lebih kebal terhadap serangan penyakit dibandingkan dengan unggas yang lainnya. Pakan yang diberikan kepada ternak bebek sekurang-kurangnya harus memenuhi 2 unsur sumber pakan, yaitu pakan sumber energi dan pakan sumber protein.

Pakan ternak sumber energi yang dapat diberikan kepada bebek diantaranya yaitu dedak padi, jagung, pollard, tepung singkong, nasi kering, dan mie/roti afkir. Sedangkan pakan sumber protein yang dapat diberikan untuk ternak bebek diantaranya ikan rucah, cangkang udang dan keong.

Pemberian keong pada ternak bebek dapat meningkatkan jumlah produksi telur bebek. Keong mas ini juga sangat disukai bebek dan diyakini dapat merangsang bebek untuk bertelur. Untuk mengambil keong disawah sebaiknya dilakukan pada pagi hari, karena setelah terkena sinar matahari biasanya keong akan bersembunyi. Dengan memelihara bebek, diharapkan petani tidak kesulitan lagi untuk membasmi keong, karena justru keong bisa membantu diusaha sampingan ternaknya. Oleh karena itu, terjadi integrasi yang baik bidang pertanian-peternakan.
Sumber : www.hkti.org)

Mengenal Bahan Pakan Alternatif Ternak Itik

Banyak bahan pakan alternatif (bahan pakan pilihan) yang bisa digunakan, namun dalam mencari bahan yang akan dipakai hendaknya berpegang pada kadar protein dan energi yang diperlukan itik. Bahan pakan sumber energi untuk itik antara lain adalah dedak padi, jagung, menu, tepung singkong, polar, nasi keying, roti afkir dan mie afkir, namun dalam pemberiannya sebaiknya tidak dalam bentuk keying, tetapi agak basah atau jika terlalu keras perlu direndam sebelum diberikan pada itik. Sebagai contoh perendaman diperlukan jika itik diberi nasi kering, sehingga nasi tersebut menjadi agak lunak/lembek dan dapat ditelan dengan mudah oleh itik.

Bahan pakan sumber protein yang sangat disukai oleh itik dalam bentuk segar adalah ikan rucah, cangkang udang dan keong, namun pemberiannya haruslah dalam ukuran yang cukup kecil untuk memudahkan itik menelannya. Selain itu berbagai jenis bahan pakan sumber protein yang berbentuk tepung yang dapat diberikan kepada itik antara lain bungkil kelapa, tepung ikan, bekicot dan sebagainya. Kandungan zat gizi beberapa bahan, sebagai berikut :



Dedak Padi
Dedak path (bekatul) merupakan hash dari prows penggilingan path yang digiling, jumlahnya sekitar 10% dari total berat path. Pemanfaatan dedak sebagai bahan pakan ternak mempunyai kandungan karbohidrat atau sumber energi yang cukup tinggi. Penggunaan dedak path hingga 75% dalam ransum itik petelur tidak mengganggu produksi telur, asalkan kandungan nutrisi yang lainnya cukup.

Singkong
Singkong merupakan tanaman yang mudah dijumpai dart banyak dihasilkan di Indonesia. Bagian singkong yang dapat digunakan sebagai bahan pakan itik adalah umbi gaplek. Tepung singkong/gaplek mempunyai kandungan karbohidat atau sumber energi yang tinggi, hampir menyamai jagung, tetapi miskin akan protein (sekitar 2%). Pada umbi singkong, sebagian besar sianida terdapat pada kulitnya. Pengupasan kulit umbi, perendaman dan pengeringan dapat menurunkan kadar sianida tersebut. Tepung singkong dapat digunakan dalam pakan ink hingga 30%. Pemberian dalam jumlah yang lebih tinggi akan menyebabkan ternak mencret (diare).

Bekicot
Bekicot yang umumnya terdapat di pedesaan dapat digunakan sebagai sumber protein untuk itik. Bekicot segar mengandung protein kasar sekitar 15%, kadar protein ini dapat ditingkatkan dengan membuat tepung bekicot (dipisahkan dari kulit, dikeringkan lalu digiling). Tepung bekicot yang dibuat dari bekicot mentah mengandung 52% protein, sedangkan yang dibuat dari bekicot rebus mengandung 32,7% protein. Tepung bekicot mentah dapat dicampurkan dalam pakan itik hingga 15%, sedangkan tepung bekicot rebus hingga 20%.

Keong Emas
Keong emas balk digunakan untuk campuran pakan itik karma hewan air ini mengandung banyak protein dan kalsium. Pemberian dalam bentuk segar dapat menyebabkan pengaruh negatif terhadap ternak, yaitu dapat menyebabkan penurunan produksi ternak karma di dalam lendir keong tersebut terdapat suatu zat anti nutrisi yang dapat menghambat pertumbuhan ternak, oleh sebab itu dianjurkan menggunakan keong Emas yang telah direbus, karma zat anti nutrisi yang ada akan berkurang atau bahkan hilang setelah proses perebusan selama 15-20 menu.

Cangkang Udang
Cangkang udang (terdiri dari kepala dan kulit) merupakan limbah yang banyak ditemui di daerah pantai terutama di daerah yang mempunyai pabrik kerupuk udang dan penampungan (pengolahan) udang untuk ekspor. Cangkang udang basah mempunyai kadar air 60-65% dan apabila dikeringkan mengandung 50% protein kasar, 11% calcium dan 1,95% fosfor. Pemberian cangkang udang kering hingga 30°,% dapat meningkatkan produksi telur itik cukup tinggi.

Ikan Rucah
Ikan rucah yang banyak dihasilkan di berbagai daerah dapat digunakan sebagai sumber protein bagi itik. Pemberian ikan rucah akan Baling melengkapi kebutuhan protein jika diberikan bersamaan dengan cangkang udang.

Penyediaan pakan untuk itik yang dipelihara secara intensif wring menjadi kendala dalam peralihan cara pemeliharaan dari tradisional ke intensif, karma itik yang dipelihara secara intensif biasanya diberi pakan produksi pabrik atau pakan komersial yang menghabiskan 60-70% biaya produksi. Hal ini merupakan beban yang cukup berat apabila itik yang dipelihara hanya berproduksi rata-rata kurang dari 60%. Keadaaan ini memacu peternak untuk menyusun ransum itik sendiri. Penggunaan pakan komersial hanya terbatas untuk itik periode awal (umur 0-28 hari), hal ini berkaitan dengan alasan yang sifatnya ekonomis, disamping karma bahan baku pakan itik tidak mudah diperoleh. Pada pemeliharaan itik intensif semua kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan atau bertelur harus diberikan oleh peternak sehingga biaya yang dibutuhkan untuk pembelian
pakan cukup tinggi. Oleh karma itu pemberian pakan yang murah dan memenuhi kebutuhan zat gizi sangat perlu untuk menunjang keberhasilan usaha peternakan itik. Zat gizi yang dibutuhkan oleh itik untuk dapat hidup, bertumbuh dan bertelur adalah: air, protein, sumber energi (lemak dan karbohidrat), vitamin dan mineral
(Dari berbagai sumber-wd18102011)

Mempelajari Komposisi Pakan itik

Pakan merupakan kebutuhan pokok dalam usaha pemeliharaan ternak itik. Biaya untuk ransum menempati presentase terbesar dibandingkan dengan biaya lainnya. Oleh karena itu pengetahuan dan keterampilan dalam penyediaan dan penyusunan ransum yang baik sangat diperlukan oleh peternak.  Pada prinsipnya fungsi makanan untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup, membentuk sel-sel dan jaringan tubuh, serta menggantikan bagian-bagian yang rusak. Selanjutnya makanan untuk kebutuhan berproduksi.

A. Gizi
Yang dimaksud dengan gizi adalah zat-zat yang terkandung dalam ransum ternak yaitu karbohidrat, lemak, protein, mineral dan vitamin. Karbohidrat, lemak dan protein akan membentuk energi sebagai hasil pembakaran.
  1. Karbohidrat adalah sumber tenaga dan energi yang dipakai dalam setiap aktivitas di dalam tubuh dan gerak itik. Sumber karbohidrat antara lain terdapat dalam jagung, beras, sorgum dan dedak padi. 
  2. Lemak berfungsi sebagai sumber tenaga serta mengandung vitamin A, D, E dan K. Kelebihan karbohidrat ditimbun di bawah kulit tubuh sebagai lemak. Jadi kekurangan lemak bisa diisi oleh karbohidrat. Tetapi lemak yang berlebihan dapat menyebabkan terganggunya saluran reproduksi. Adapun sumber bahan ransum yang mengandung lemak adalah jagung, kedelai dan minyak ikan. 
  3. Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan, mengganti jaringan-jaringan yang rusak serta berproduksi. Kebutuhan protein kasar tergantung pada fase hidup itik. Selain persentase total kandungan protein di dalam makanan, perlu juga diperhatikan keseimbangan asam amino yang membentuk protein tersebut. Untuk menjaga keseimbangan asam amino tersebut, penyusunan ransum dianjurkan terdiri dari berbagai macam bahan baku. Dengan demikian kekurangan suatu asam amino dapat ditutupi oleh asam amino yang diperoleh dari bahan baku lainnya. Berdasarkan sumbernya, protein dapat digolongkan menjadi dua yaitu protein yang berasal dari hewan dan protein yang berasal dari tanaman. 
    • Protein Hewan . Protein yang berasal dari hewan mempunyai nilai hayati yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang berasal dari tanaman. Sumber protein hewani antara lain terdapat dalam tepung ikan, hasil ikutan daging dari tempat pemotongan hewan dan susu bubuk kering. 
    • Protein nabati. Protein nabati berasal dari tanaman seperti jagung, dedak padi, bungkil kedelai, bungkil kelapa, bungkil kacang hijau dan bungkil kacang tanah. Akan tetapi kelebihan protein dapat mengakibatkan penurunan pertumbuhan ringan, penurunan penimbunan lemak tubuh dan kenaikan tingkat asam urat di dalam darah. Selain itu dapat pula mengakibatkan litter menjadi basah yang disebabkan ternak mengkonsumsi air yang berlebihan.
  4. Mineral merupakan zat pembangun pertumbuhan dan produksi. Kebutuhan mineral relatif sedikit tetapi kekurangan mineral dapat mengakibatkan efek yang tidak menguntungkan pada ternak itik. Sumber mineral adalah dari makanan hijauan dan dari hewan. 
  5. Vitamin sangat dibutuhkan dalam metobolisme kalsium dan fosfor yang berfungsi sebagai pembentukan tulang dan kulit telur.
B. Energi
Energi adalah hasil dari proses metabolisme karbohidrat, protein dan lemak didalam tubuh dengan satuan pengukur kalori. Energi diperlukan untuk semua kegiatan fisiologis dan produksi itik termasuk aktivitas pernapasan, sirkulasi darah, pencernaaan makanan dan sebagainya. Karbohidrat dan lemak merupakan bahan makanan sumber energi yang praktis dan efisien. Adapun kebutuhan energi metabolisme adalah sebagai berikut :
  • Fase starter : 2800 – 3000 kkal/kg 
  • Fase grower : 2500 – 2700 kkal/kg 
  • Fase layer : 2600 – 2800 kkal/kg 


C. Bahan baku pakan
Bahan baku pakan itik beragam dan dapat digunakan sesuai ketersediaan serta tingkat harga bahan tersebut.
Adapun kandungan zat nutrisi beberapa pakan dapat dilihat di bawah ini :


D. Feed Suplement
Untuk melengkapi ransum makanan dibutuhkan vitamin, mineral dan antibiotik yang bermanfaat untuk mempercepat pertumbuhan, mempertahankan atau meningakatkan produksi dan menjaga kesehatan ternak itik. Feed suplement bisa hanya berbentuk vitamin, mineral atau campuran antara antiobitik dan vitamin atau juga campuran dari vitamin, antibiotik dan mineral. Cara pemberian feed suplement mengikuti aturan dari pabrik pembuatnya. Contoh perhitungan pakan buatan untuk memperoleh kandungan protein dan energi metobolisme dari beberapa bahan baku pakan untuk itik pada periode starter.


Untuk menyusun ransum atau pakan itik dara dan itik periode layer (induk petelur), cara perhitungannya sama seperti di atas. Kebutuhan protein adalah sebagai berikut :
  • Fase starter : 18 – 20 % 
  • Fase grower : 15 – 17 % 
  • Fase Layer : 17 – 19%
(Dari berbagai sumber-wd15102011)

Memanfaatkan Ampas Tahu sebagai Pakan Itik

Ransum merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi. Biaya yang dikeluarkan untuk pemberian ransum adalah 70% dari total biaya produksi (Sulistiyowati dan Roospitasari, 1992). Tingginya biaya produksi ini perlu ditanggulangi dengan menyusun ransum sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat, dengan harga yang relatif lebih murah, tetapi masih mempunyai kandungan gizi yang baik untuk produksi dan kesehatan ternak itu sendiri (Mairizal, 1991).Usaha untuk menekan biaya makanan adalah mencari bahan makanan yang tidak bersaing dengan manusia, harganya murah, memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, tersedia secara kontinyu, disukai ternak serta tidak membahayakan bagi ternak yang memakannya (Sulistiowati (1995).

Ampas tahu adalah salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan penyusun ransum. Sampai saat ini ampas tahu cukup mudah didapat dengan harga murah, bahkan bisa didapat dengan cara cuma-cuma. Ditinjau dari komposisi kimianya ampas tahu dapat digunakan sebagai sumber protein. Mengingat kandungan protein dan lemak pada ampas tahu yang tinggi yaitu protein 8,66%; lemak 3,79%; air 51,63% dan abu 1,21%, maka sangat memungkinkan ampas tahu dapat diolah menjadi bahan makanan ternak.

Ampas tahu merupakan limbah dalam bentuk padatan dari bubur kedelai yang diperas dan tidak berguna lagi dalam pembuatan tahu dan cukup potensial dipakai sebagai bahan makanan ternak karena ampas tahu masih mengandung gizi yang baik dan dapat digunakan sebagai ransum ternak besar dan kecil. Penggunaan ampas tahu masih sangat terbatas bahkan sering sekali menjadi limbah yang tidak termanfaatkan sama sekali (Wiriano 1985)

Ampas tahu dalam keadaan segar berkadar air sekitar 84,5% dari bobotnya. Kadar air yang tinggi dapat menyebabkan umur simpannya pendek. Ampas tahu kering mengandung air sekitar 10,0-15,5%, sehingga umur simpannya lebih lama dibandingkan dengan ampas tahu segar (Widyatmoko,1996). Ampas tahu basah akan segera menjadi asam dan busuk dalam 2-3 hari sehingga tidak disukai oleh ternak. Masalah itu dapat ditanggulangi dengan cara menjemur di bawah panas matahari atau dimasukkan dalam oven.

Produk sampingan pabrik tahu ini apabila telah mengalami fermentasi dapat meningkatkan kualitas pakan dan memacu pertumbuhan ayam pedaging, juga telah digunakan sebagai pakan sapi bahkan ayam pedaging. Namun karena kandungan air dan serat kasarnya yang tinggi, maka penggunaannya menjadi terbatas dan belum memberikan hasil yang baik. Guna mengatasi tingginya kadar air dan serat kasar pada ampas tahu maka dilakukan fermentasi.

Proses fermentasi dengan menggunakan ragi yang mengandung kapang Rhizopus Oligosporus dan R Oryzae. Proses fermentasi akan menyederhanakan partikel bahan pakan, sehingga akan meningkatkan nilai gizinya. Bahan pakan yang telah mengalami fermentasi akan lebih baik kualitasnya dari bahan bakunya. Fermentasi ampas tahu dengan ragi akan mengubah protein menjadi asam-asam amino, dan secara tidak langsung akan menurunkan kadar serat kasar ampas tahu. Analisis proksimat ampas tahu mempunyai kandungan nutrisi cukup baik sebagai bahan ransum sumber protein. Ampas tahu mengandung protein kasar 21,29%, lemak 9,96%, SK 19,94% (Syaiful, 2002) kalsium 0,61%, phospor 0,35%, lisin 0,80%, methionin 1,33% (Lab. IPB, 1995).

Menurut L. D. Mahfudz, E. Suprijatna dan W. Sarengat melakukan riset untuk mangkaji ampas tahu fermentasi sebagai bahan pakan serta menganalisa pengaruhnya sebagai bahan penyusun ransum ayam pedaging strain Arbor Acres umur 1 minggu “unsex” dengan berat badan rata-rata 120,08±15,58 g. Ampas tahu sebelum dipakai sebagai bahan penyusun ransum difermentasi dengan ragi yang mengandung kapang Rhyzopus Oligosporus dan R. Oryzae. Ransum disusun dengan kandungan protein dan energi yang sama (iso protein dan iso energi). Ransum periode awal mengandung protein 22% dan energi metabolis 2.900 kkal/kg, sedang ransum periode akhir mengandung protein 20% dan energi metabolis 3.000 kkal/kg. secara nyata memperlihatkan adanya peningkatan konsumsi pakan, pertambahan berat badan, berat badan akhir dan berat karkas, seiring dengan meningkatnya level ampas tahu dalam pakan. Namun persentase karkas secara nyata tidak berbeda, sedangkan konversi pakan secara nyata lebih baik dengan pemberian ampas tahu fermentasi.

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Tanwiriah.W, Garnida D, Asmara.I.Y, pemberian ransum yang mengandung tepung ampas tahu 30% dengan kandungan serat kasar ransum 87% masih menghasilkan pertambahan bobot badan yang tidak berbeda dengan ransum kontrol. Hal ini membuktikan bahwa entok bisa mentolerir kandungan serat kasar ransum yang lebih tinggi dari 8%. Begitupun konversi ransum, pemberian ransum yang mengandung tepung ampas tahu tidak berbeda, karena konsumsi ransum tidak berbeda demikian juga dengan pertambahan bobot badan. Selain itu konversi yang sama memperlihatkan bahwa semua ransum mempunyai tingkat efisiensi yang sama, meskipun mempunyai kandungan serat kasar yang berbeda.

Tekhnologi fermentasi dapat merubah komposisi kimia ampas tahu menjadi bernilai gizi lebih baik, fermentasi ampas tahu dengan ragi akan mengubah protein menjadi asam-asam amino, dan secara tidak langsung akan menurunkan kadar serat kasar ampas tahu.Pemberian ransum yang mengandung tepung ampas tahu 30% menghasilkan pertambahan bobot badan yang tidak berbeda dengan ransum kontrol, begitupun pada konversi ransum.Dengan demikian pemberian ampas tahu dengan batasan tertentu memberikan dapak yang positif terhadap unggas.

Daftar pustaka
Amrullah, A. K. 2003. Nutrisi unggas. Lembaga Satu Gunung budi, Bogor.
Anggorodi, 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. U-I Press. Jakarta.
Anggorodi, 1995. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Mairizal, 1991. Penggunaan ampas tahu dalam ransum unggas. Poultry Indonesia, No. 133.
Rasyaf, M. 1987. Memelihara Burung Puyuh. Penerbit. Kanisius, Yogyakarta.

(Sumber : http://uripsantoso.wordpress.com)