Pembibitan dan Penetasan Itik

Untuk mengurangi pengeluaran untuk pembelian DOD atu bibit itik yang terbilang tidak sedikit dalam budidaya itik, maka tak salah jika kita mencoba untuk menetaskannya sendiri. Usaha pembibitan bebek bertujuan untuk menyediakan bibit bebek sendiri. metode pembibitan atau penetasan telur itik akan dilakukan secara alami dengan memanfaatkan induk ayam ataupun induk entok serta penetasan dengan menggunakan mesin tetas.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam penetasan
  • Sumber Telur Tetas. Untuk mendapatkan telur tetas yang memiliki daya tetas tinggi, pastikan bahwa perbandingan jumlah itik jantan dan itik betina memenuhi syarat. Adapun perbandingan itik jantan dan betina minimal 1 : 8.
  • Kebersihan Kerabang. Kebersihan kerabang sangat berpengaruh dalam proses penetasan di mana kerabang telur yang mengandung kotoran terutama fases itik merupakan sumber bakteri dan jamur yang dapat masuk ke dalam telur yang akan menyerang embrio yang sedang berkembang atau membuat telur menjadi busuk. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka sarang atau tempat itik betelur harus dijaga kebersihannya terutama litter kandang. Telur yang banyak kotorannya sebaiknya tidak ditetaskan tapi bila terpaksa lakukan pembersihan menggunakan kain yang dibasahi air hangat dan dicampur dengan deterjen telur atau pemutih pakaian cuci dengan dosis satu sendok makan untuk satu liter air.
  • Bobot dan Bentuk Telur. Kerabang telur harus dalam keadaan utuh, licin dan berbentuk oval atau bulat telur. Bobot telur tetas yang normal antara 60g – 65g. Setelah selesai melakukan seleksi, telur tetas siap untuk ditetaskan. Untuk telur tetas yang memerlukan penyimpanan beberapa hari, ruang pendingin/tempat penyimpanan harus bersuhu tidak lebih dari 18°C. Hal dimaksudkan agar embrio di dalam telur tidak berkembang. Telur tetas sebaiknya tidak disimpan lebih dari 7 hari (dihitung dari mulai ditelurkan) sebab penyimpanan yang terlalu lama akan menyebabkan bertambahnya waktu menetas.
  • Proses Penetasan dalam mesin tetas. Sebelum telur tetas di masukan ke dalam mesin tetas, pastikan bahwa keadaan mesin tetas, peralatan penetasan dan kelengkapan mesin tetas sudah tersedia. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, lakukan fumigasi/pengasapan baik untuk mesin tetas maupun untuk telur yang akan ditetaskan.
Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam proses penetasan antara lain suhu, kelembapan, serta waktu penetasan. Suhu yang ideal untuk penetasan telur itik adalah 38°C dengan kelembapan 65% – 70%. Adapun lamanya proses penetasan yang normal adalah 28 hari.

Selain hal-hal tersebut di atas, tehnik atau cara menempatkan telur di rak mesin tetas, peneropongan telur serta pemutaran/pembalikan telur juga merupakan bagian dari keberhasilan penetasan.
  • Penempatan Telur. Penempatan telur pada rak mesin tetas tergantung dari jenis mesin tetas, posisi telur yang ideal adalah meletakan telur dengan kemiringan 40°. Hal ini akan memudahkan dalam pemutaran telur. Bagian telur yang tumpul harus terletak di atas, karena dalam perkembangannya kepala embrio akan mengarah ke atas di mana terletak kantung udara.
  • Peneropongan. Peneropongan dilakukan dengan tujuan untuk membedakan mana telur yang fertil dan steril (infertil). Telur yang fertil hidup akan terlihat seperti pembuluh darah yang menyebar seperti jala sedangkan telur yang steril akan terlihat kosong atau tampa pembuluh dara seperti jala. Peneropongan dapat dilakukan pada hari ke-7, hari ke-15 dan pada hari ke-27. Telur yang steril langsung dikeluarkan dari mesin penetasan.
  • Pemutaran Telur. Pemeturan telur dilakukan agar embrio tidak menempel ke salah satu sisi kerabang telur serta telur tetas dapat memperoleh panas yang seimbang. Pemutaran telur di mulai pada hari ke-3 sampai hari ke-25. Pemutaran telur sebaiknya dilakukan 3 kali dalam sehari.
  • Ventilasi. Dalam proses penetasan embrio membutuhkan oksigen yang cukup untuk itu ventilasi berfungsi sebagai pertukaran antara CO2 dan O2.
(Sumber :http://baca-kata.blogspot.com)